Medan - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumatera Utara (Sumut) menghabiskan anggaran Rp 2 milliar untuk membangun situs keterbukaan informasi Sumut Smart Province.

Namun situs ini dinilai masih kurang menjawab kebutuhan pencari data dan informasi terkini dan komprehensif. Pun begitu, sejauh ini keberadaan situs ini bisa dikatakan lebih terdepan dari provinsi lain di Indonesia.

"Sebenarnya anggaran yang dialokasikan untuk membangun situs (website) ini awalnya Rp 9 miliar. Namun, sampai saat ini yang telah digunakan sebanyak Rp 2 miliar untuk membangun relay out dan infrastruktur," jelas Kepala Seksi Pengembangan Aplikasi Diskominfo Sumut Muhammad Alvian pada pembukaan pelatihan jurnalisme data oleh AJI Indonesia dan AJI Medan di Ibis Styles Hotel, Jalan Pattimura, Medan, Sabtu 24 Mei 2019.

Menurut Alvian, sampai saat ini pihaknya masih memiliki sejumlah kendala untuk mendapatkan informasi paling terkini dari instansi dan OPD di Sumut untuk menyediakan data yang dibutuhkan publik.

Baca juga: Gubernur Edy Minta Pers Beritakan Kesulitan Rakyat

"Contoh kecil saja kemarin kita minta data ke Jasa Marga untuk mendapatkan info panjang jalan aja kita masih kesusahan," ujarnya.

Saat ini Diskominfo masih berpegang pada Perpres No 95 tentang SPBE. Namun untuk ke depan pihaknya ingin mendapatkan kekuatan untuk mendapatkan askes data ke semua dinas terkait.

Misalnya, ketika publik ingin mengakses data terbaru soal pendidikan maupun tentang pertanian terbaru, tidak perlu lalu membuka situs dinas terkait, cukup hanya membuka situs Diskominfo saja.

"Harapannya ke depan memang begitu. Namun kami pikir Sumut sudah lebih maju dengan provinsi lain, yang sudah lebih dulu memiliki website seperti ini. Kalau orang Medan bilang udah paten kalilah. Lebih baik dibuat dulu, daripada menunggu semua data ada baru dibuat dan ke depannya akan terus diperbaiki," ujarnya.

Sementara itu, menurut sejumlah jurnalis yang bergabung di AJI Medan, data yang ditampilkan di website situs Diskominfo Sumut masih bersifat seremonial dan datanya tidak terkini. Sehingga, jurnalis susah mengolahnya.

Baca juga: Begini Tips Jitu Edy Rahmayadi untuk Para Pemudik

Selain itu, data yang dipublikasikan juga dalam format PDF sehingga bagi jurnalis tidak menjadi bahan menarik untuk diolah.

"Saya lihat data yang disediakan masih sekadar tampilan saja, sehingga masih sulit diolah. Misalnya apabila dipublikasikan dalam excel barangkali lebih baik," ujar Bayu Wardhana dari AJI Indonesia yang dihadirkan sebagai narasumber.

Pelatihan jurnalisme data AJI Medan diikuti 15 jurnalis dari sejumlah media, antara lain Tribun Medan, Analisa Daily, SIB, Okezone, SmartFM, VOA Indonesia, Tagar dan jurnalis freelance. []