Gorontalo, (Tagar 25/11/2017) – Gorontalo Karnaval Karawo 2017 yang berlangsung pada Sabtu (25/11) diramaikan ratusan peserta dari 41 kontingen, baik dari perbankan, dinas, badan, Polri, sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat umum.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie saat membuka kegiatan itu mengatakan, melalui karnaval tersebut, kain sulaman khas karawo semakin dikenal bukan hanya tingkat lokal dan nasional, namun juga internasional.

Karawo adalah kain tradisional khas Gorontalo yang pembuatannya merupakan hasil kerajinan tangan. Tak ada kain karawo yang bukan hasil kerajinan tangan. Karawo merupakan Bahasa Gorontalo yang artinya sulaman dengan tangan. Orang-orang di luar Gorontalo mengenalnya dengan sebutan kerawang.

"Dengan pelaksanaan karnaval ini banyak perajin karawo kehabisan bahan, yang berarti terjadi peningkatan produksi dan permintaan akan sulam karawo yang meningkatkan perekonomian perajin," ujar Rusli Habibie bangga.

Rusli mengungkapkan, saat ini karawo bukan hanya dijadikan baju, namun dikembangkan menjadi mukena, kipas, sapu tangan dan lainnya.

"Saya juga mengapresiasi peran Bank Indonesia yang selalu mempromosikan karawo hingga ke luar," tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo Nancy Lahay menjelaskan, kegiatan itu digelar untuk mempopulerkan sulaman karawo dan merupakan kegiatan tahunan.

"Festival karawo tahun ini diramaikan dengan parade busana dan karnaval dan juga diikuti oleh sejumlah perwakilan dari daerah regional Sulawesi," pungkasnya.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu menjadi even wisata dan promosi kain sulam karawo agar lebih dikenal baik lokal, nasional dan mancanegara.

Sempat Mati Suri

Karawo lahir dari proses panjang yang merupakan buah dari ketekunan para perajin. Seni membuat kerawang atau karawo disebut ‘Makarawo’.

Seni tersebut telah diturunkan dari generasi ke generasi sejak masa Kerajaan Gorontalo berjaya. Keindahan motif, keunikan cara pengerjaan, dan kualitas yang bagus membuat karawo bernilai sangat tinggi.

Tak mengherankan jika keunikan dan kualitas tersebut diminati oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Produksi kain karawo sempat mati suri. Tak banyak perajin yang menekuni dunia karawo karena kerumitan yang menyita banyak energi, waktu, dan ketekunan. Oleh karena itu, pemerintah melakukan berbagai cara untuk membuat kerajinan ini dapat terus lestari dan semakin populer.

Salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah mengadakan Festival Karawo yang telah digelar untuk pertama kalinya pada 17-18 Desember 2011 silam. Festival yang akan terus digelar setahun sekali ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat dalam mengenakan produk karawo sekaligus menguatkan ekonomi melalui pengembangan budaya daerah.

Dalam even Gorontalo Karnaval Karawo 2017 pula kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo berupaya "menjual" kain sulaman khas karawo khas Gorontalo melalui pelaksanaan karnaval.

"Selain melalui pelaksanaan Gorontalo Karnaval Karawo, kami juga memperkenalkan karawo hingga ke New York, Amerika Serikat pada ajang Couture Fashion Week," ungkap Kepala Perwakilan BI Gorontalo Suryono.

Ia menjelaskan, pihaknya mencoba mengenalkan karawo ke level yang lebih tinggi dan dampak ekonominya sangat tinggi," ujarnya.

"Dalam beberapa even karnaval yang telah dilakukan, perputaran uangnya mencapai Rp 5 miliar. Mulai dari perajin karawo, koreografer karnaval, kuliner hingga suvenir, hotel dan penjahit," kata dia.

Menurut Suryono, efek berantai yang timbul dari pelaksanaan karnaval dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas.

"Ini merupakan karnaval karawo yang ketujuh bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait mencoba menawarkan solusi," ucap Suryono.

Dalam dua tahun terakhir ini Suryono mengaku pihaknya memberikan masukan kepada Gubernur Gorontalo Rusli Habibie untuk memasukkan sektor pariwisata ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

"Pariwisata itu harus menjadi prioritas dan hal itu sudah diakomodir. Selain asumsi makro yang kita sampaikan, kita juga memberikan rekomendasi yang kuat jika pariwisata adalah pilihan yang tidak bisa dikesampingkan," tutupnya. (ant/yps)