Jakarta, (Tagar 30/8/2018) – Setelah satu tahun diperkenalkan di Amerika Serikat, Facebook meluncurkan layanan "Video Watch" secara global.

Layanan itu berisi berita hiburan dan konten olahraga untuk bersaing dengan platform lain, misalnya YouTube.

Kepala Video Facebook Fidji Simo mengatakan, Watch mendapatkan momentum nyata di pasar karena dibangun di atas gagasan bahwa menonton video bisa menjadi aktivitas sosial.

"Setiap bulan lebih dari 50 juta orang di AS datang untuk menonton video selama setidaknya satu menit di Watch, dan total waktu yang dihabiskan menonton video di Facebook Watch telah meningkat 14 kali sejak awal 2018," kata dia seperti dikutip Reuters.

"Dengan Watch ... Anda dapat melakukan percakapan dua arah tentang konten dengan teman, penggemar lain, atau bahkan materi iklan itu sendiri," sambung dia.

Facebook mengatakan, para pembuat konten yang memenuhi syarat akan dapat menghasilkan uang dari video mereka menggunakan layanan iklan Ad Breaks di Inggris, Irlandia, Australia dan Selandia Baru, serta Amerika Serikat mulai Kamis (29/8), yang akan diikuti lebih banyak negara.

Simo mengatakan, penayang akan menghasilkan pendapatan dari sistem periklanan video otomatis pada platform, yang telah menampilkan acara seperti "Huda Boss" dan permainan "Major League Baseball" itu.

"Kami tahu ini adalah jalan yang panjang tetapi kami telah bekerja keras untuk memastikan bahwa pengalaman 'Ad Breaks' adalah yang baik untuk mitra kami dan komunitas kami,” kata dia.

Disebutkan, pendapatan iklan akan dibagi 55 persen untuk pembuat konten dan 45 persen untuk Facebook, rasio yang sama seperti di Amerika Serikat.

Untuk dapat berpartisipasi dalam Ad Breaks, penanyang perlu membuat video berdurasi tiga menit yang menghasilkan 30.000 tayangan dalam dua bulan, dan harus memiliki 10.000 pengikut.

Simo mengatakan, Facebook sedang mengerjakan berbagai opsi lain bagi para pembuat konten untuk menghasilkan uang, seperti konten bermerek dan kemampuan bagi penggemar untuk secara langsung mendukung para pembuat konten favorit mereka melalui langganan.

"(Penggemar berlangganan) adalah sesuatu yang saat ini telah diluncurkan ke sejumlah pembuat konten, namun kami berencana segera memperluas program itu," ujar Simo.

Sebelumnya, Facebook menguji coba fitur untuk menemukan teman baru melalui label ‘things in common’, kesamaan yang dimiliki, yang akan terlihat di kolom komentar.

Ketika membaca unggahan di laman publik, Facebook akan memberi label pada akun lain yang tidak ada di daftar pertemanan, yang turut berkomentar di laman tersebut, misalnya jika orang tersebut berasal dari kota yang sama dengan kita.

Label tersebut akan memberi tahu jika ada pengguna lain yang berada di grup yang sama atau kesamaan lainnya. Laman Cnet menulis Facebook menyebut ini sebagai ‘tes kecil’ dan hanya di Amerika Serikat.

Memiliki kesamaan akan membuat orang saling terhubung. “Kami mengetes label `kesamaan yang akan muncul di atas komen dari orang yang tidak berteman dengan Anda, tapi, mungkin memiliki kesamaan,” kata Facebook.

Facebook meyakinkan informasi yang ditampilkan di ‘things in common’ hanya yang memang untuk ditampilkan ke publik dan fitur ini akan berkaitan dengan pengaturan pribadi.

Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg ini tersangkut isu mengenai kerahasiaan data dan cara mereka mengumpulkan data penggunanya beberapa waktu lalu. []