UNTUK INDONESIA
Exco PSSI Diringkus, Panser Biru dan Askot PSSI Semarang Angkat Bicara
Johar Lin Eng yang ditangkap juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jateng.
Suporter PSIS Semarang. (Foto: Ist)

Semarang, (Tagar 29/12/2018) - Satgas Antimafia Sepak Bola meringkus anggota Exco PSSI, Johar Lin Eng. Johar diduga terlibat match fixing atau pengaturan skor di kompetisi sepak bola Tanah Air.

Penangkapan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jateng itu ikut mencoreng atmosfer sepak bola di kota Johar Lin Eng tinggal, Semarang. Insan persepakbolaan di kota tersebut angkat bicara.

Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Semarang, Supriyadi, meminta agar kasus yang membelit Johar Lin Eng menjadi momentum perbaikan pengelolaan sepak bola Tanah Air. Dia menegaskan agar kepolisian membongkar semua mafia sepak bola mulai dari dugaan yang ditujukan ke Johar Lin Eng.

"Dengan mulai terkuaknya kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi dunia persepakbolaan Indonesia maupun di Jawa Tengah," kata Supriyadi di Semarang, Jateng, Jumat (28/12).

Bagi pria yang juga Ketua DPRD Kota Semarang tersebut, dengan penanganan kasus match fixing tersebut dia berharap pembinaan sepak bola Tanah Air, khususnya di Jawa Tengah tidak berimbas ke bawah.

"Dan sebaliknya, kasus itu juga harus menjadi pembelajaran dan koreksi bagi asosiasi kabupaten/kota untuk melakukan perbaikan pembinaan kompetisi," sambungnya.

Menurut Supriyadi, selama ini pelaku sepakbola Indonesia hanya bisa mengendus bau pengaturan skor. Langkah-langkah untuk melacak dan mengungkapnya masih sulit untuk dilakukan. "Bisa dirasakan pula ketika kompetisi digulirkan tapi kita sulit untuk membuktikannya," beber dia.

Karena itu, Supriyadi mendukung rangkaian penangkapan yang dilakukan Satgas Antimafia Sepak Bola belakangan ini. Baginya, tindakan pelaku pengaturan skor sangat mencederai semangat sportivitas olah raga.

"Kalau ini dibiarkan maka daerah yang benar-benar ingin memajukan sepak bola fair play malah justru akan dihancurkan oleh oknum-oknum yang bermain dibalik kompetisi," ujarnya.

Supriyadi menambahkan sepak bola tidak hanya berbicara pertandingan dan bergulirnya kompetisi. Ada hal lain yang tak kalah penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Di antaranya faktor non teknis menyangkut persoalan integritas, serta kesejahteraan pemain maupun pelatih.

"Juga masalah teknis pelatihan, pembibitan hingga seleksi pemain. Endingnya adalah bagaimana kompetisi sepak bola bisa berjalan sehat dengan menjunjung tinggi sportivitas," tukasnya.

Hal senada disuarakan kelompok pendukung klub sepak bola PSIS Semarang, Panser Biru. Ketua Panser Biru Wareng mengapresiasi langkah Satgas Antimafia Bola yang meringkus pelaku match fixing. "Harus ada penanganan skala yang lebih besar agar sepak bola kita maju. Di Liga 1 juga harus diungkap, jangan hanya di Liga 3 atau Liga 2 saja," pintanya.

Wareng mengaku tidak kaget dengan penangkapan Johar Lin Eng mengingat kasak kusuk sepak terjangnya di dunia sepak bola Jawa Tengah bukan hal baru. “Sudah banyak yang tahu kalau di Jateng,” katanya.

Berita terkait
0
Bahaya Konsumsi Ciu untuk Kesehatan Tubuh
Ciu sudah dikenal di kalangan masyarakat luas, yang dampaknya sangat berbahaya jika sudah mengonsumsinya.