UNTUK INDONESIA
Eksotisme Canting Mas di Puncak Menoreh Kulon Progo
Objek wisata Canting Mas Dipowono berada di puncak bukit Menoreh sisi selatan, menawarkan pemandangan yang eksotis.
pengunjung tampak bersantai di salah satu spot obyek wisata Canting Mas Diponowo pada Minggu 9 Februari 2020 (foto: Tagar/Harun Susanto)

Kulon Progo - Minggu, 9 Februari 2020, awan kelabu sedang menaungi Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Matahari yang ingin menunjukkan eksistensinya menjadi terhalang, tidak mampu berbuat lebih.

Toh, itu tidak menghapus keindahan panorama alam di sana. Khususnya Wisata Canting Mas Dipowono. Wisata pemandangan alam ini mulai banyak diburu masyarakat. 

Spot foto dengan latar belakang alam yang masih asri, menjadi jujugan untuk dikunjungi. Objek wisata yang mulai bangkit ini beralamat di Jalan Clereng – Tamanan Kilometer 6 Clapar II, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo.

Objek Wisata Canting Mas berada pada 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tempat ini dianggap sebagai puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh bagian selatan.

Saat Tagar mengunjungi objek wisata itu, banyak pengunjung di sana. Mereka tampak sumringah, memanfaatkan wahana yang ada. Banyak yang berfoto ria di sana. 

Namun, tidak sedikit dari mereka yang hanya sekedar duduk santai sambil menikmati camilan ringan. Pengelola menyediakan gazebo, sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga atau teman dekat.

Obyek wisata Canting Mas, berjarak sekitar 1,8 kilometer dari Kalibiru. Keberadaan Cantin Mas Dipowono ini melengkapi kawasan wisata bukti Menoreh sebelumnya seperti Kalibiru, Waduk Sermo dan Goa Kiskendo.

Dari berbagai spot yang tersedia, yang paling diminati adalah yang kaca.

Semua akses sudah terkoneksi. Dari Kota Yogyakarta, untuk menuju ke lokasi ini, harus menempuh sekitar 1 jam 14 menit. Dengan kata lain, dari Kota Yogyakarta berjaraknya sekitar 33 kilometer.

Akses jalan menuju wisata ini terbilang cukup baik. Namun demikian perlu keahlian berkendara. Beberapa kilometer sebelum sampai lokasi, ruas jalanan berliku, juga naik-turun.

Spot Puncak Menoreh yang Instagramable

Saat tiba di lokasi, Tagar disambut Sudarjo, selaku penasehat pengelola wisata Canting Mas Dipowono. Kemudian dikenalkan dengan Sugeng yang menjadi Ketua Pengelola wisata tersebut. "Tersedia lima macam spot di Obyek Wisata Canting Mas Dipowono ini," kata Sugeng memulai obrolan.

Canting Mas Diponowo Kulon Progo2Pengunjung tampak bersantai di salah satu spot obyek wisata Canting Mas Diponowo pada Minggu 9 Februari 2020 (Foto: Tagar/Harun Susanto)

Lima spot itu berupa Spot foto kaca, Spot perahu, Spot Y, dan sisanya berupa spot di pohon pinus. "Dari berbagai spot yang tersedia, yang paling diminati adalah yang kaca," ucapnya.

Demi memuaskan pengunjung, pihak pengelola masih akan berupaya menambah spot foto kolam. Saat ini masih dalam tahap pembangunan. Tidak hanya itu, rencananya juga akan dibangun jembatan melingkar untuk melihat pemandangan yang terhampar.

Obyek wisata Canting Mas Dipowono memang memiliki pemandangan yang menakjubkan. Jika cuaca bagus, bendungan Waduk Sermo yang menjadi latar belakang spot foto di sana akan terlihat eksotis. 

Tidak hanya itu, jika cuaca cerah, saat mata melihat ke selatan akan terlihat laut selatan. Begitu juga saat mata melihat ke arah tenggara, akan terlihat Gunung Merapi.

Menurut Sugeng, objek wisata Canting Mas Dipowono rencananya juga akan menawarkan wisata malam. Ini untuk memanjakan masyarakat yang suka dengan suasana malam. 

Apabila sudah dibuka nantinya, pengunjung bisa menikmati malam hari di antara pepohonan sembari menikmati pemandangan Bandara Yogyakarta International Airport, gemerlap Kota Wates bahkan Kota Yogyakarta.

Untuk menikmati berbagai spot foto di Canting Mas Dipowono, pengunjung hanya dikenakan biaya yang murah. Hanya dengan uang Rp 5.000 per pengunjung, dan biaya parkir, mereka sudah bisa masuk ke obyek wisata tersebut. 

Sementara untuk bisa berfoto di spot yang tersedia, hanya ditarik biaya sukarela dan jasa foto Rp 3.000 per foto. "Kunjungan paling banyak tetap di akhir pekan hari sabtu dan minggu, bisa mencapai 200-an orang. Sementara hari biasa sekitar 50-an orang," tuturnya.

Obyek wisata Canting Mas sempat mengalami kevakuman cukup lama. Kemudian baru dihidupkan kembali pada Desember 2019. Promosi dilakukan melalui peran pengunjung yang sudah pernah datang. "Hasil fotonya, oleh pengunjung kan nanti di-share baik di Facebook, WA atau lainnya. Saat ini promosinya masih seperti itu," ujarnya.

Seorang pengunjung, Yulifah warga Galur mengatakan, spot foto di Canting Mas menarik. Yang paling menarik baginya adalah spot foto kaca, karena berlatar belakang bendungan Sermo. "Bagus ya pemandangan di sini. Saya kapan-kapan ingin datang lagi," ujarnya.

Waktu terbaik mengunjungi objek wisata dengan ketinggian setara dengan Kalibiru ini pada pagi atau sore. Pagi sebelum fajar, pengunjung bisa menikmati sunrise. Sedangkan sore bisa menikmati keindahan sunset.

Lokasi di ketinggian dengan hamparan terbuka bisa dengan leluasa melihat hijau perbukitan. Pengunjung juga bisa menyaksikan pemandangan Waduk Sermo, Pantai Glagah, Kota Wates dan lainnya.

Yuli berharap, jalan menuju ke obyek wisata Canting Mas Puncak Dipowono akan diperhalus. Selain itu perlu ada petugas pengamanan, sebagai antisipasi agar tidak terjadi kecelakaan.

Banyak yang minta izin kepada saya untuk mengambil canting mas.

Menanggapi hal ini, Sugeng mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah petugas untuk mengamankan jalan menuju wisata Canting Mas.

Canting Mas Menoreh Kulon Progo3Pengunjung berfoto di spot foto perahu di obyek wisata Canting Mas Kulon Progo, Minggu 9 Februari 2020 (Foto: Tagar/Harun Susanto)

Mitos Harta Karung Canting Mas

Asal-usul penamaan Canting Mas, memiliki kisah tersendiri dan menarik untuk disimak. Sudarjo, penasehat pengelola Wisata Canting Mas mengatakan, aslinya nama lokasi wisata tersebut adalah pededean atau dalam bahasa Indonesia bermakna berjemur. 

Di sekitaran obyek wisata Canting Mas, ada 3 lokasi yang perlu dilestarikan, yaitu tempat meditasi, pededean dan gua landak.

Sudarjo menjelaskan, pada zaman dahulu orang-orang mencari ilmu kanuragan dengan cara bertapa. Setelah selesai bertapa, kemudian orang itu dimandikan oleh pawang dan kemudian dijemur.

Kemudian dinamakan canting mas, lanjut Sudarjo, karena pada zaman dahulu sekitar tahun 1985-1986 banyak orang yang berupaya mencari harta karun berupa emas dan salah satunya adalah canting mas.

"Banyak yang minta izin kepada saya untuk mengambil canting mas. Namun dari puluhan datang, tidak ada yang berhasil mendapatkan," ujar Sudarjo. []

Baca Juga:

Berita terkait
Pesona Pantai Nampu Gunungkidul yang Menggoda
Deretan pantai di selatan Gunungkidul, Yogyakarta, ada yang memesona namun belum sepenuhnya dipoles. Pantai itu benama Nampu yang masih asri.
Pegunungan Menoreh Disulap Menjadi Wanawisata
Lahan 309 Ha di Pegunungan Menoreh akan dikembangkan menjadi wanawisata. Saat ini yang digarap haru 1,5 Ha.
Bangun Infrastruktur Dongkrak Wisatawan, Bukit Menoreh pun Dibelah
Kami belum puas dengan kondisi yang ada, sehingga membelah bukit Menoreh adalah salah satu solusi untuk mendongkrak kunjungan wisatawan
0
Hendak Balap Liar, Polisi Ambon Tahan 5 Sepeda Motor
Kerap menganggu dan ketenangan warga, polisi di kota Ambon menahan lima motor yang kerap dipakai untuk balap liar