Oleh: Eko Kuntadhi*

Berapa jumlah orang yang tumplek di GBK, Senayan hari ini. Berapa juga yang masih tertahan di luar karena tidak bisa masuk stadion yang sudah sesak. Sementara dari Bundaran HI sampai Sudirman barisan massa masih menyemut.

Saya tidak tertarik menghitungnya. Apalagi membandingkan dengan massa Prabowo-Sandi kemarin. Atau klaim 212 dengan tujuh triliun manusia salat di Monas.

Bagi saya sore ini, jumlah massa bukanlah yang utama. Bukan soal angka yang pantas diperdebatkan. Tapi semangat apa yang melatari massa yang tumpah di jalan itu?

Prabowo-Sandi menarik massa dengan identitas tunggal. Dalam kampanyenya nuansa keragaman boleh dibilang hilang. Atau dihilangkan. Agama dijadikan bahan jualan politik.

Maka massa yang datang ke acara Prabowo-Sandi didorong oleh semacam kegairahan beragama.

Wajar saja. Narasi yang dikembangkan melulu soal agama. Ada perang badar. Ada perang uhud. Kata-kata jihad. Takbir. Pengkafiran. Dan sejenisnya. Oleh mereka kampanye jadi begitu kaku. Kehilangan keceriaanya.

Bahkan untuk mengeksploitasi agama, mereka rela melakukan kampanye mulai subuh. Dengan menggelar salat subuh berjamaah. Meski kita tahu betapa lucunya salat jemaah di GBK yang bentuknya melingkar. Kiblatnya melompat-lompat.

SBY mengkritik konten kampanye Prabowo-Sandi yang eksklusif. Nuansanya tidak menggambarkan kegiatan itu sebagai kampanye Calon Presiden Republik Indonesia. Tapi mirip acara khilafah.

Aneh. Padahal Prabowo gak ada bau-bau Islamnya sama sekali.

Bagi Prabowo pilpres disikapi mati-matian. Jabatan adalah segalanya. Berbeda dengan Jokowi. Pilpres dipandang sebagai ikhtiar demokrasi untuk mencari putra terbaik bangsa untuk memimpin. Agar masyarakat lebih sejahtera.

Berbeda dengan Jokowi-Amin. Makna kampanyenya menghadirkan nuansa keragaman. Meski Cawapresnya adalah Kiai, tapi bagi pasangan ini agama tidak dijadikan tunggangan untuk dijajakan.

Orang hadir di kampanye Jokowi karena ada keyakinan bahwa kebinekaan harus dipertahankan. Bahwa keragaman justru adalah kekayaan bangsa ini. Bahwa Indonesia itu multikultural, multietnik dan multiagama. Indonesia yang seragam akan kehilangan keindonesiaannya.

Orang datang ke kampanye Jokowi sebagai refleksi ingin tetap mempertahankan Indonesia yang sekarang. Indonesia dengan segala kekuatannya.

Akhirnya kita paham, kenapa mereka lebih suka membungkus isu dalam bingkai agama. Sebab mereka juga ingin melaksanakan strategi habis-habisan.

Lihat saja komentar Prabowo di sebuah media asing. Dia mengatakan, jika kalah dalam Pilpres ini berarti dicurangi. Artinya dia ingin membangkitkan emosi publik kalau pertandingan gak berpihak padanya.

Bagi Prabowo pilpres disikapi mati-matian. Jabatan adalah segalanya.

Berbeda dengan Jokowi. Pilpres dipandang sebagai ikhtiar demokrasi untuk mencari putra terbaik bangsa untuk memimpin. Agar masyarakat lebih sejahtera. Intinya pada kata bagaimana membuat masyarakat sejahtera. Bukan siapa yang harus jadi Presiden.

Jadi Pilpres adalah jalan untuk mensejahterakan masyarakat. Ini jalan demokrasi. Bukan pertarungan. Apalagi perang yang harus mengeluarkan darah.

Betapa mengerikan jika ada Capres yang memandang Pilpres sebagai perang. Rakyat akan robek persatuannya. Konflik bisa menjalar. Bagaimana mungkin ini percaya orang seperti ini benar-benar memikirkan kesejahteraan rakyat. Yang ada hanya mikir jabatannya sendiri saja.

Jokowi dan Prabowo adalah dua pribadi berbeda. Yang satu fokus mensejahterakan rakyat. Yang satu mengajak rakyat berbenturan hanya untuk merebut kursi Presiden.

Perbandingan keduanya seperti langit dan comberan.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga: