UNTUK INDONESIA
Dilaporkan 170 Pengidap HIV/AIDS Meninggal di Lebak
Dari 360 warga Lebak, Banten, yang mengidap HIV/AIDS disebutkan 170 meninggal dunia, sebelum meninggal mereka sudah menularkan HIV ke orang lain
Ilustrasi (Sumber: theteenagertoday.com)

Lebak – “Sebanyak 170 warga Kabupaten Lebak, Banten, dilaporkan meninggal dunia akibat penyebaran penyakit Human Immuno Deficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).” Ini lead di berita “170 Warga Lebak Meninggal Akibat HIV/AIDS” di Antara, 17 Januari 2020.

Pernyataan di judul dan lead berita ini tidak akurat karena kematian pada pengidap HIV/AIDS atau disebut secara internasional sebagai Odha (Orang dengan HIV/AIDS – PLWHA/People Living With HIV/AIDS) bukan karena HIV atau AIDS atau HIV/AIDS, tapi karena penyakit-penyakit yang muncul pada masa AIDS.

1. Suami-suami Jadi Mata Rantai Penyebaran HIV/AIDS

Orang-orang yang mengidap HIV/AIDS akan mengalami masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV, jika tidak meminum obat antiretroviral (ARV). Masa AIDS kondisi daya tahan tubuh Odha sangat rendah sehingga mudah tertular atau terinfeksi berbagai macam penyakit, seperti diare, TB, pneumonia, dll. Penyakit-penyakit ini disebut infeksi oportunistik. Nah, yang menyebabkan kematian pada Odha adalah infeksi oportunistik bukan HIV atau AIDS atau HIV/AIDS.

Disebutkan sejak tahun 2002 sampai 2019 tercatat 360 warga Lebak, Banten, terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah ini 170 meninggal dunia. Angka ini tidak menggambarkan kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di masyarakat karena epidemi HIV/AIDS erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi (360) digambarkan sebagai puncak gunung es yang muncul ke atas permukaan air laut, sedangkan kasus yang tidak terdeteksi digambarkan sebagai bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut.

gunung esFenomema gunung es pada epidemi HIV/AIDS (Dok Pribadi)

Satu hal yang luput dari perhatian terkait dengan kematian 170 Odha ini adalah sebelum mereka meninggal ada kemungkinan mereka sudah menularkan HIV/AIDS kepada orang lain. Penularan terjadi melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. Hal ini terjadi karena tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan orang-orang yang tertular HIV/AIDS sebelum masa AIDS.

Warga Lebak yang meninggal jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS sebelum mereka meninggal. Jika dia seorang laki-laki bisa jadi sudah menularkan HIV/AIDS ke istrinya atau pasangan seks lain. Kalau di antara yang meninggal itu ada pekerja seks komersial (PSK), maka sudah puluhan bahkan ratusan warga Lebak yang berisiko tertular HIV/AIDS yaitu warga yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa memakai kondom.

Dikatakan oleh Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, dr Firman Rahmatullah, penyebaran penyakit HIV/AIDS juga ada beberapa faktor antara lain faktor pergaulan seks bebas, jarum suntik bekas narkoba, transfusi darah dari penderita positif juga air susu ibu yang positif ke bayinya.

Faktor ‘pergaulan seks bebas’ adalah mitos (anggapan yang salah) karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, di dalam atau di luar nikah, bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas, zina, melacur, dll.), tapi karena kondisi saat terjadi hubungan seksual (salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak memakai kondom).

2. Temuan Kasus HIV/AIDS Rendah Karena Tidak Ada Program Riil

Bukan ‘jarum suntik bekas narkoba’, tapi pemakaian jarum suntik secara berganti-ganti dengan bergiliran terutama pada penyalahguna narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya). Jika salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS maka darah yang mengandung HIV/AIDS akan masuk ke dalam jarum dan tabung sehingga akan masuk ke tubuh pemakai berikutnya.

Sedangkan transfusi darah kecil kemungkinan karena PMI (Palang Merah Indonesia) sebagai pengelola transfusi darah menjalankan skrining HIV dan beberapa penyakit lain sebelum darah ditransfusikan.

Disebutkan pula: Selama ini, kasus penderita HIV/AIDS di Kabupaten Lebak kebanyakan kaum ibu-ibu akibat suaminya kerapkali berhubungan seks di jalanan.

Kalau ibu-ibu itu tertular HIV/AIDS dari suaminya tentulah jumlah pengidap HIV/AIDS laki-laki dan perempuan berimbang, maka yang jadi pertanyaan adalah: apakah suami ibu-ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS tsb. juga menjalani tes HIV?

Jika Dinkes Lebak tidak melakukan tes HIV kepada suami-suami dari ibu-ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS, maka suami-suami itu akan jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah.

Disebutkan estimasi warga Lebak yang mengidap HIV/AIDS adalah 1.500 atau 0,01 persen dari 1,2 juta penduduk. Sedangkan yang terdeteksi hanya 360 atau 24%. Tentang penemuan kasus yang rendah disebutkan penyebabnya akibat minimnya anggaran dari APBD.

Jumlah kasus yang terdeteksi rendah bukan karena anggaran yang minim, tapi karena tidak ada sistem untuk mendeteksi HIV/AIDS pada masyarakat. Pusat-pusat kesehatan, seperti Puskesmas dan rumah sakit, hanya pasif menunggu warga yang berobat. Jika ada indikasi yang terkait dengan HIV/AIDS pasien dianjurkan untuk tes HIV.

Sedangkan tes HIV terhadap ibu-ibu hamil pun tidak dijalankan dengan regulasi sehingga tidak semua ibu hamil menjalani tes HIV.

Yang diperlukan di Lebak adalah program penanggulangan berupa upaya menurunkan insiden infeksi HIV baru pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK. Jika program ini tidak dijalankan, maka insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi. Laki-laki yang tertular HIV jadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. Penyebaran HIV/AIDS ini kelak akan bermuara sebagai ‘ledakan AIDS’ di Lebak. []

Berita terkait
Prof Zubairi Djoerban Mulai Kenal AIDS di Perancis
Sebelum HIV/AIDS diakui pemerintah, Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, sudah menangani pasien AIDS di Perancis, ini modalnya di Indonesia
Kawin-kontrak Bisa Jadi Mata Rantai Penyebaran AIDS
Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai Juni 2019 dilaporkan 466.859, insiden infeksi HIV baru terus terjadi al. melalui kawin-kontrak
Menelusuri Akar Kasus HIV/AIDS Pertama di Indonesia
Pemerintah menetapkan kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia yaitu HIV/AIDS yang terdeteksi pada turis gay Belanda di RS Sanglah Denpasar tahun 1987
0
Penjelasan Managemen Plafon Malioboro Mall Ambrol
Pengunjung Malioboro Mall Malioboro geger dan heboh saat plafon di tempat itu ambrol. Mall seperti banjir karena tumpahan air hujan.