Jakarta, (Tagar 16/3/2018) - Gelar Habib kini menjadi sorotan. Sebab, tak jarang, orang yang semestinya meneduhkan umat Muslim justru mengintervensi dan makin menggaduhkan suasana perpolitikan Indonesia. Berdasarkan keterangan Habib Zein bin Umar bin Smith, habib berasal dari kata habaib, yang memiliki artian, keturunan Rasulullah yang dicintai.

"Habib adalah gelar kehormatan yang ditujukan kepada para (dzurriyah) keturunan Nabi Muhammad SAW yang tinggal di lembah Hadhramaut (Yaman Selatan)," jelas Habib Zein yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Rabithah Alawiyah.

"Keturunan Nabi Muhammad itu ada dari Sayyidina Husein disebut Sayyid dan Sayyidina Hasan yang disebut Assyarif. Keduanya keturunan dari Sayyida Fatimah binti Muhammad dengan Ali bin Abi Thalib," sambungnya.

Rabithah Alawiyah adalah organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad di Indonesia. Mereka yang melakukan pendataan secara resmi terkait siapa saja orang Indonesia yang memiliki pertalian darah dengan Rasulullah.

Diketahui, keturunan Muhammad SAW hijrah dari Basrah ke Hadhramaut, lalu ke pesisir Timur Afrika, dan Asia Timur, hingga masuk ke Nusantara.

Di Indonesia, kata Zein, keturunan Rasulullah masuk melalui Aceh, dan wilayah barat lain. Setelah itu masuklah Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa.

Namun, tidak semua orang Hadhramaut yang menginjak Nusantara memiliki hubungan darah dengan Rasulullah. Mereka yang tidak memiliki hubungan dengan keluarga nabi disebut masaikh dan qabail.

Ekstremisme Harus DiobatiProfesor DR HM Quraish Shihab. (Foto: Ist)

Menurut catatan Zein, marga non-Alawiyin yang tersohor hidup di Indonesia dan bukan keturunan nabi semisal dari marga Al Gadri, Ba'asyir, dan Bamu'min.

Dia menegaskan, seorang habib tentunya harus memiliki akhlak yang baik karena perilakunya akan menjadi suri tauladan bagi masyarakat Indonesia.

Perlu diinformasikan, saat ini Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab tengah 'hijrah' ke Saudi Arabia, dan sudah beberapa tahun belakangan ini tidak pulang ke Tanah Air dan hingga kini belum diketahui sebab musababnya ia enggan pulang ke Indonesia.

Lalu, ada juga Habib Bahar bin Smith (Majelis Pembela Rasulullah) yang kini harus mendekam di balik jeruji besi akibat melakukan persekusi terhadap 2 pria di Ponpes Tajul Alawiyyin, Bogor, pada Desember 2018.

Selain dua nama di atas, terdapat pula habib yang populer karena dakwahnya. Sebut saja Habib Ali Kwitang (pemimpin Majelis Tak'lim Kwitang), Habib Luthfi bin Yahya (pendakwah Nadhlatul Ulama), Habib Jindan (Pengasuh Ponpes Al-Fachriyah Tangerang), dan Mantan Menteri Agama, Quraish Shihab.

Nama terakhir, berhak secara silsilah menyandang gelar Habib karena ia berhak secara silsilah. Namun, hingga kini ia tidak mau menggunakan gelar Habib meskipun sosoknya sudah populer dan banyak dicintai oleh jamaahnya.

Ustaz

Sementara itu, Ustaz atau sering dieja Ustad (Ustadz) adalah sebutan di Indonesia yang bermakna seorang pendidik. Penggunaan sebutan Ustaz diserap dari Bahasa Arab dan Bahasa Persia dari kata, yang memiliki makna sama, yaitu guru atau pengajar.

Gelar ustaz biasanya disematkan kepada orang yang mengajar agama atau guru agama dan pelabelan ini pun tidak mengenal umur. Mulai dari remaja, dewasa bahkan seorang pria tua dapat dipanggil ustaz bila ia mengajarkan ilmu Agama Islam ke muridnya.

Menurut Tuan Guru Bajang (TGB), di Jazirah Arab, seorang ustaz punya kedudukan yang sangat tinggi di masyarakat. Sebab, ustaz dapat berdakwah di muka umum, yang tentu saja terseleksi dengan penggunaan sertifikat sah untuk berdakwah.

Maka itu ia menyebut negara Indonesia amat lah spesial, karena untuk menjadi seorang pendakwah di sini tidak memerlukan sertifikat.

Di sejumlah kampus ternama di Timur Tengah dan Afrika, kata TGB, hanya yang memiliki gelar akademik dan bersertifikat saja yang berhak untuk menyandang gelar Al-Ustadz.

Jadi, lebih lanjut ia menerangkan, label ustaz merupakan istilah yang layak disematkan pada lulusan perguruan tinggi di sana, dan kemudian baru bisa berdakwah di masjid setelah mengantongi sertifikat yang selanjutnya dapat mengembangkan potensi dakwahnya dapat menjadi peneduh umat.

Baca juga: