UNTUK INDONESIA
Denny Siregar: Gerakan Menghadang Pelantikan Jokowi
Semua masalah ditembakkan ke satu titik yaitu Jokowi. Tanggal 20 Oktober 2019 ia dilantik menjadi Presiden untuk kedua kali. Tulisan Denny Siregar.
Presiden Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat, 20 September 2019, meminta DPR menunda pengesahan RKUHP. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Berbulan-bulan masyarakat dibuat terpecah dengan masalah KPK.

Mulai pemilihan Ketua KPK baru sampai revisi UU KPK membuat tajamnya pro dan kontra. Apalagi KPK dengan lihainya memainkan propaganda lewat media bahwa mereka adalah "cicak" yang harus dilindungi.

Tetapi pro dan kontra ini meninggalkan residu berbau tajam. Dibangunlah propaganda baru bahwa Jokowi adalah pemimpin otoriter dan rezim yang kejam. Bahkan beberapa karikatur membangun persepsi bahwa Jokowi adalah seorang diktator, dan menyamakannya dengan Soeharto.

Saat panas debat revisi UU KPK, suasana semakin membara dengan terbakarnya beberapa hutan. Siapa yang disalahkan? Lagi Jokowi.

Situasi ini diperparah dengan niat DPR untuk mensahkan Rancangan KUHP yang sangat kontroversial dalam waktu dekat. RKUHP ini memuat pasal-pasal yang membingungkan.

Mulai bergerak elemen-elemen mahasiswa membawa dua agenda ke jalan, yaitu tolak revisi UU KPK dan batalkan RKUHP.

Tetapi agenda utamanya adalah membangun kerusuhan besar seperti yang terjadi tahun 98, saat mahasiswa menjatuhkan Soeharto.

Yang menarik, dalam demonya ada teriakan-teriakan bergema, "Jokowi turun!"

Semua permasalahan ini memang ditembakkan ke satu titik, yaitu Jokowi. Tanggal 20 Oktober Jokowi akan dilantik menjadi Presiden untuk kedua kalinya.

Gerakan mahasiswa kemarin di DPR bagian dari upaya memancing kerumunan lebih besar dengan menunggangi rasa kecewa kepada Jokowi. Mahasiswa yang bergerak adalah mahasiswa yang memang sejak awal bagian dari oposisi, meski ada juga mahasiswa yang memang tidak setuju dengan revisi UU KPK.

Tetapi agenda utamanya adalah membangun kerusuhan besar seperti yang terjadi tahun 98, saat mahasiswa menjatuhkan Soeharto. Romantisme inilah yang sedang dibangun, makanya Jokowi dalam beberapa karikatur digambarkan sebagai Soeharto.

Sayangnya, Jokowi cukup cerdik menyikapi itu semua. Sebelum api membesar melalui demonstrasi menolak RKUHP, ia melemparkan masalah itu ke DPR yang memang ingin mensahkannya. Dengan begitu, para pendukung Jokowi yang masih rasional bisa mengerti bahwa Jokowi masih berada satu barisan dengan mereka.

Apakah sikap Jokowi menolak RKUHP ini akan memadamkan api pergerakan?

Bisa jadi. Bisa juga tidak.

Kita lihat sambil seruput kopi.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Berita terkait
Jokowi Minta DPR Tunda Pengesahan RKUHP
Presiden Joko Widodo meminta DPR RI menunda pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Aplikasi Tempo Menghilang, Imbas Cover Jokowi Pinokio?
Head of IT Tempo Media Group, Handy Dharmawan, memastikn menghilangnya aplikasi Tempo di google playstor bukan karena cover Jokowi Pinokio.
Jokowi 'Godok' Nama Menteri, Ace: Mau Apa, Golkar Punya
Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily mengatakan partainya sudah melakukan persiapan matang, jika nanti ada kader yang diminta Jokowi jadi menteri.
0
Alasan Driver Ojol Aksi Mogok Makan di Yogyakarta
Sejumlah driver ojek online (ojol) dari Go Car dan Grab Car menggelar aksi mogok makan sejak Selasa, 22 Oktober 2019.