UNTUK INDONESIA
Dampak Penjualan Saham Bank Permata pada Saham ASII
Saham ASII naik 6,23% meski penjualan sektor otomotif turun signifikan. Terkompensasi penjualan Bank Permata ke Bangkok Bank.
Foto: marketmover.id

Saham ASII dalam sepekan naik 6,23% meskipun sektor otomotif menunjukkan penjualan yang turun signifikan. Namun masih terkompensasi dari penjualan saham Bank Permata (BNLI) ke Bangkok Bank. 

Rabu, 20 Mei 2020, telah dilakukan transaksi penjualan saham Bank Permata atau BNLI yang dimiliki oleh PT Astra International Tbk dengan kode saham ASII kepada Bangkok Bank Public Company Limited sebesar 44,56% atau 12,49 miliar lembar saham. Dengan kesepakatan harga jual Rp 1.346,97 per saham, maka ASII menerima penghasilan sebesar Rp 16,82 triliun, yang akan dicatatkan pada laporan keuangan tahun 2020 ini.

Sebagai informasi, total pelepasan saham Bank Permata (BNLI) ke Bangkok Bank akan mencapai 89,12%, dimana kepemilikan saham Standard Chartered Bank di Bank Permata sebesar 44,56% juga turut dilepas.

Transaksi jumbo ini sejalan dengan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB PT Bank Permata Tbk pada 23 April 2020 yang lalu. Para pemegang saham telah menyetujui rencana pengambilalihan oleh Bangkok Bank, sekaligus dilakukan perubahan jajaran dewan komisaris baru yang dinominasikan oleh Bangkok Bank yaitu Chartsiri Sophonpanich (Komisaris Utama), Chong Toh (Komisaris), Chalit Tayjasanant (Komisaris), dan Niramarn Laisathit (Komisaris). Sedangkan untuk posisi Direktur Utama masih tetap dipegang oleh Ridha D.M. Wirakusumah.

Kinerja Saham ASII pada 2019 dan Q1 2020 

PT Astra International Tbk atau ASII membagi struktur bisnisnya dalam 7 kelompok yaitu: otomotif, jasa keuangan, alat berat pertambangan konstruksi energi, agribisnis, infrastruktur logistik, teknologi informasi, dan Properti. Pada tahun 2019, pendapatan bersih dari ASII secara total adalah Rp 237,17 triliun, turun -0.85% dibanding tahun 2018.

Pendapatan terbesar ASII di 2019 diperoleh dari segmen bisnis otomotif dengan porsi 43,6% atau setara dengan Rp 103,34 triliun. Lalu di urutan kedua adalah segmen alat berat pertambangan konstuksi energi sebesar Rp 84,1 triliun atau 35,4%, dan yang ketiga adalah jasa keuangan sebesar Rp 20,26 triliun atau 8,5%. Keempat adalah segmen bisnis agribisnis sebesar Rp 17,45 triliun atau 7,4%. Sisanya ada infrastruktur logistik Rp 7,4 Triliun, teknologi informasi Rp 4,4 triliun, dan properti Rp 320 miliar.

Astra InternasionalGrafik Sumber Penjualan ASII 2019 (diolah oleh Yossy Girsang)

Untuk Kuartal I 2020, persentase pendapatan dari masing-masing segmen bisnis ASII kurang lebih masih sama. Hanya ada sedikit kenaikan pada segmen jasa keuangan yang naik menjadi 9,7% dan agribisnis menjadi 8,7%. Dikompensasi oleh segmen otomotif dan alat berat Pertambangan konstruksi energi mengalami penurunan.

Sedangkan untuk total keseluruhan pendapatan bersih ASII pada Kuartal I 2020 mengalami penurunan sebesar -9,4% dari Rp 59,6 triliun turun menjadi Rp 54 triliun. Tampaknya dampak dari pandemi Covid-19 sudah mulai terlihat di kuartal pertama tahun ini, dimana paling besar memukul segmen bisnis alat berat pertambangan konstruksi energi dan juga segmen bisnis otomotif.

Astra InternasionalTabel Pendapatan Bersih ASII pada Q1 2019 dan 2020 (diolah oleh Yossy Girsang)

Situasi penurunan pendapatan ini masih berlanjut dan lebih signifikan lagi karena dampak pandemi virus corona. Terkonfirmasi dari data penjualan otomotif yaitu mobil yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) dimana penjualan mobil pada April 2020 turun sangat dalam hingga -69,9% atau hanya 24.276 unit dibandingkan April 2019 yang 80.622 unit. Gaikindo sendiri telah merevisi target penjualan tahun ini menjadi 600.000 unit, dari sebelumnya 1,1 juta unit. Pada 2019 sendiri, total penjualan mobil baru adalah 1.026.921 unit, dan angka ini juga sudah turun -10% dibanding tahun 2018 yang 1.151.413 unit.

Demikian juga dengan sepeda motor, pada April 2020 lalu, penjualannya turun hingga 70% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) juga memprediksi bahwa tahun 2020 ini penjualan motor akan turun 40-50% dibanding angka estimasi awal 6,4 juta unit, seperti dikutip oleh Bisnis.com pada 15 Mei 2020.

Untuk segmen alat berat pertambangan konstruksi dan energi, pada kuartal I 2020, juga menunjukkan penurunan pendapatan yang signifikan yaitu -19% dari Rp 22,6 triliun di kuartal I 2019 menjadi Rp 18,3 triliun.

Tantangan ASII di masa pandemi Covid-19 

Berdasarkan fakta dan data yang terkumpul saat ini, kami melakukan estimasi pada total pendapatan bersih dan laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) sepanjang tahun 2020 ini. Dimana akan terjadi penurunan signifikan pada segmen bisnis otomotif, jasa keuangan dan alat berat pertambangan konstruksi energi. 

Untuk agribisnis, kami perkirakan masih akan ada pertumbuhan sesuai dengan pencapaian di Kuartal I 2020. Sedangkan segmen lainnya sama atau flat dibanding tahun 2019. Sehingga diperoleh estimasi pendapatan bersih ASII pada tahun 2020 sebesar Rp 173,96 triliun atau turun – 26,7% dibanding tahun 2019.

Astra InternasionalGrafik Pendapatan dan Laba Bersih ASII (diolah oleh Yossy Girsang)

Dengan penjualan seluruh saham yang dimiliki oleh PT Astra International Tbk (ASII) di Bank Permata maka ASII akan kehilangan potensi hasil bersih ventura bersama sebesar Rp 676 miliar seperti pada tahun 2019, namun dari hasil penjualan saham akan memperoleh penghasilan sebesar Rp 16,82 triliun sebelum pajak di tahun 2020 ini.

Sehingga dengan net profit margin 7.9% diperoleh laba bersih ASII sebesar Rp 13,702 triliun. Tentu estimasi ini juga akan sangat bergantung pada kemampuan manajemen ASII untuk mengurangi beban perusahaan selama penjualan turun signifikan di segmen bisnis yang terdampak.

Relative Valuation Saham ASII 

Dengan jumlah saham beredar 40,48 miliar lembar saham, maka diperoleh laba bersih per saham atau EPS sebesar Rp 338.

Dengan harga saham ASII saat ini di level Rp 3.970, dan EPS 338, diperoleh Price Earnings Ratio (PER) sebesar 11,73 kali, masih lebih rendah dibanding PER rata-rata terendah dalam 5 tahun terakhir ASII yaitu 14,4 kali.

Kembali kami ingatkan bahwa analisa dampak penjualan Bank Pertama terhadap saham ASII ini berdasarkan estimasi dan opini dari kami dengan tujuan untuk memberikan gambaran dan edukasi bagaimana seorang Investor saham sebaiknya melakukan analisa sebelum memutuskan untuk memiliki saham di suatu perusahaan. Pada akhirnya, keputusan jual beli sepenuhnya ada di tangan masing-masing pembaca. []

*Yossy Girsang, Pengamat Ekonomi dan Praktisi Pasar Modal
Tim Ekonomi Tagar

Berita terkait
Dampak Positif Bangkok Bank Akusisi Saham Permata
Kepala Riset PT Koneksi Kapital Marolop Alfred Nainggolan menanggapi keputusan Astra dan Standard Chartered melepas saham di Permata.
Bank BTPN Relaksasi Kredit Debitur Terimbas Covid-19
Bank BTN mendukung program pemerintah dalam memberikan relaksasi kredit kepada debitur, khususnya UMKM yang terpapar Covid-19.
Memahami Cara Kerja Bank Jangkar Secara Sederhana
Pemerintah berencana akan menunjuk bank milik negara sebagai bank penyalur dana talangan dari stimulus sektor perbankan, atau bank jangkar.
0
Dampak Penjualan Saham Bank Permata pada Saham ASII
Saham ASII naik 6,23% meski penjualan sektor otomotif turun signifikan. Terkompensasi penjualan Bank Permata ke Bangkok Bank.