Jakarta, (Tagar 28/6/2018) - Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa, Ganjar Pranowo dan Edy Rahmayadi, bintang mereka bersinar terang dalam pemilihan gubernur 2018. Berbagai lembaga survei hitung cepat menempatkan mereka di posisi teratas. 

Bila hitung cepat konsisten, selangkah lagi Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah untuk kedua kali, dan Edy Rahmayadi Gubenur Sumatera Utara. 

Ridwan Kamil

Mochamad Ridwan Kamil akrab disapa Kang Emil Wali Kota Bandung periode 2013-2018. Sebelum terjun ke dunia politik, Emil berkarier sebagai arsitek merangkap dosen tidak tetap di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Didampingi Oded Muhammad Danial sebagai calon wali kota Bandung pada 28 Juni 2013 silam, Ridwan Kamil meraih  45,24 persen hasil suara dari 7 pasangan calon (paslon) lainnya. Saat itu, partai pendukungnya Gerindra dan PKS.

Dalam riwayat pendidikannya, Emil mendapatkan gelar Sarjana S-1 jurusan Teknik Arsitektur di ITB tahun 1990-1995. Kemudian melanjutkan tingkat S-2 di University of California Berkeley, pada 1999-2001 dan mendapatkan raihan Master of Urban Design.

Dalam perjalanannya Emil mendapat 9 penghargaan dari tahun 2004-2015, di antaranya adalah Winner second prize National design competition dari Agung Sedayu Club House, dan Winner third prize National design competition Jatinegara District Revitalization.

Sementara saat ini pada pemilihan gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) 2018, Ridwan Kamil diusung menjadi calon gubernur Jabar, berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum sebagai wakil gubernur oleh partai PPP, PKB, NasDem, dan Hanura.

Dari hasil hitung cepat atau quick count tujuh lembaga survei, pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil-Ruzhanul Ulum dipastikan menjadi pemenang dalam kontestasi Pilkada Jabar kali ini.

Ridwan KamilRidwan Kamil calon gubernur Jawa Barat. (Foto: Instagram/Ridwan Kamil)

Mereka berdua konsisten meraih suara di atas 30 persen. Sedangkan pesaing terdekatnya yakni Sudrajat-Ahmad Syaikhu sejak awal tidak banyak berubah di kisaran 29 persen, dan pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang diusung Golkar dan Demokrat juga tidak banyak perubahan di kisaran 25 persen.

Selain itu, pasangan yang didukung PDIP dan koalisinya TB Hasanuddin dan Anton Charlian yang dikenal dengan slogan Hasanah tertinggal jauh di kisaran 12 persen.

Dengan hasil perolehan suara tersebut, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, berdasarkan hasil hitung cepat yang datanya sudah mendekati 100 persen dapat dipastikan akan memimpin Jabar dalam 5 tahun ke depan.

Berikut hasil hitung cepat (quick count) 7 lembaga survei untuk Pilgub Jabar 2018 pada Rabu (27/6):

SMRC (data terkumpul 98,50% pukul 17.11 Wib)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 32,24

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 12,77

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik): 29,63

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM): 25,36

Charta Politica (data terkumpul 87% pukul 17.11 Wib)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 33,84

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 11,27

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik): 30,12

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM): 24,77

Indobarometer (data terkumpul 95,67% pukul 17.11 WIB)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 32,20

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 13,06

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik): 28,33

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM): 26,40

Poltracking (data terkumpul 99 pukul 17.06 Wib)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 31,81

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 12,93

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) : 28,15

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM) : 27,10

Instrat (data terkumpul 95,67% pukul 17.06 Wib)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 32,72

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 12,90

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik): 29,18

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM): 25,19

Litbang Kompas (data terkumpul 98,25% pukul 17.01 Wib)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 32,72

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 12,21

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik): 29,50

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM): 25,57

LSI (data terkumpul 97,78% pukul 17.25 Wib)

1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu): 32,90

2. TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah): 13,00

3. Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik): 28,10

4. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM) : 26,00

Khofifah Indar Parawansa

Khofifah Indar Parawansa lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 19 Mei 1965. Perempuan berumur 53 tahun ini adalah Menteri Sosial (Mensos) ke-27 Indonesia sejak 27 Oktober 2014, dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke-5 pada Kabinet Persatuan Nasional.

Dalam jalur pendidikannya, Khofifah telah meraih beberapa gelar sarjana di sejumlah sekolah tinggi pada tahun 1980 hingga 1990-an dari Universitas Airlangga, Surabaya dan Universitas Indonesia, Depok.


Khofifah Indar ParawansaKhofifah Indar Parawansa calon gubernur Jawa Timur. (Foto: Instagram/TjitRagw)

Selain menjadi menteri, Khofifah sempat mengikuti pemilihan gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2013 lalu dengan nomor urut empat bersama Herman Surjadi Sumawiredja selaku mantan Kapolda Jawa Timur.

Mereka didukung oleh PKB, PKPB, PKPI, Partai Kedaulatan, PMB, dan PNUI. Namun mereka kalah dengan pasangan nomor urut satu Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Menteri Sosial pada 17 Januari 2018, Khofifah kembali mendaftarkan diri bersama Emil Elestianto Dardak dalam kontestan pemilihan gubernur Jawa Timur (Pilgub Jatim) 2018.

Mereka mendapatkan nomor urut satu dan didukung oleh Partai Demokrat, Golkar, PPP, Partai NasDem, PAN, dan Hanura. Persaingan keduanya, terdapat dalam dua sosok pasangan calon (paslon) lainnya, yakni Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno.

Pada pertarungan pemilihan gubernur Jawa Timur yang diadakan Rabu (27/6), sejumlah lembaga survei merilis hasil hitung cepat atau quick count.

Berdasarkan hasil perhitungan cepat dari tiga lembaga survei yang berbeda, pasangan calon (paslon) nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak mendapatkan suara berkisar 52 hingga 53 persen.

Sementara pasangan pesaingnya, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno memperoleh suara hanya sebanyak 46-47 persen.

Hasil akhir hitung cepat versi Litbang Kompas menunjukkan, pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak unggul dengan 53,36 persen, disusul pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno 46,64 persen.

Litbang Kompas mengambil 400 sampel TPS dengan metode pemilih sampel stratified sistematic sampling.

Selanjutnya dari data Charta Politika yang masuk sebesar 100 persen, pasangan Khofifah-Emil unggul dengan perolehan suara sebesar 53,54 persen. Sedangkan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno memperoleh suara 46,46 persen.

Lembaga survei lainnya, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) juga merilis hasil quick count Pilkada Jatim kemarin. Hasilnya menunjukkan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak memperoleh suara 52,28 persen. Sementara, pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno memperoleh suara sebesar 47,72 persen.

Dari laman resmi website SMRC, hasil quick count Pilkada Jatim telah menyesuaikan data masuk 99,75 persen dari 399 TPS. Berdasarkan keterangan pada laman SMRC, ada 1 TPS yang gagal karena teknis di lapangan.

Ganjar Pranowo

Gubernur petahana Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo merasa terpanggil untuk melanjutkan satu periode lagi memimpin provinsi yang dikenal sebagai jantung budaya Jawa tersebut. Dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jateng kali ini, Ganjar berpasangan dengan Taj Yasin.

Mendapat dukungan dari PDIP, PPP, NasDem dan Demokrat, Ganjar-Taj Yasin siap menghadapi pasangan calon (paslon) pesaingnya, Sudirman Said-Ida Fauziyah di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2018.

Pemilihan umum (Pemilu) Pilkada serentak sudah digelar, beberapa lembaga survei telah mengumumkan hasil perhitungan cepat atau quick count. Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memfinalisasi quick count dengan hasil Ganjar Pranowo 59 persen suara dan Sudirman Said 41 persen.

Ganjar PranowoGanjar Pranowo calon gubernur Jawa Tengah periode kedua. (Foto: Instagram/Ni Luh Indriati)

Sementara menurut Indo Barometer adalah Ganjar Pranowo 57 persen, Sudirman Said 43 persen. Sedangkan, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) baru merampungkan 97 % perhitungan quick count, dengan hasil Ganjar Pranowo meraih 58 persen (58,17%) suara dan Sudirman Said meraih 42 persen (41,83%) suara.

Ganjar Pranowo memang keturunan Jawa tulen, pasalnya anak kelima dari pasangan Parmuji Pramudi Wiryo dan Suparmi ini lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada 28 Oktober 1968. Sejak kecil, Ganjar tumbuh dalam norma kehidupan yang diwariskan oleh sang ayah dan ibu.

Ganjar menempuh jalur pendidikan SD hingga SMP di Kutoarjo dan dilanjutkan ke tingkat SMA BOPKRI, Yogyakarta. Setelah lulus SMA, Ganjar melanjutkan pendidikan tingginya dengan mengambil jurusan hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Semasa kuliah, Ganjar tercatat sebagai seorang mahasiswa yang aktif melibatkan dirinya dalam organisasi kampus, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada (Mapagama).

Berbagai pengalamannya di organisasi membuat Ganjar memilih bergabung ke dalam partai politik yang memiliki kedekatan secara ideologis dengan GMNI, yakni PDI Perjuangan. Melalui PDI-P, Ganjar terpilih menjadi anggota komisi II DPR RI periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Kemudian pada 2013, sebelum menuntasi jabatannya sebagai anggota DPR, panggilan politik untuk memimpin Jawa Tengah menghampiri dirinya. Saat Pilgub Jateng 2013, Ganjar diduetkan bersama Heru Sudjatmoko selaku wakilnya. Hasilnya, Ganjar mengalahkan petahana Bibit Waluyo dengan total perolehan suara mencapai 48,82 persen.

Sebagai Gubernur Jateng, Ganjar sempat menyita perhatian publik saat mengeluarkan kemarahannya pada petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang melakukan praktik pungutan liar (pungli) saat melakukan inspeksi mendadak di jembatan timbang Subah, Kabupaten Batang.

Ganjar mengaku melihat langsung beberapa kernet memberikan uang Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu atau di bawah denda resmi tertinggi sebesar Rp 60 ribu kepada petugas. Temuan praktik pungutan liar di Subah itu diikuti kebijakan penutupan jembatan timbang di Jawa Tengah sejak Mei 2014.

Di jalur kasus politiknya, Ganjar diyakini mantan Bendahara Umum Muhammad Nazaruddin telah menerima uang dalam proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (KTP-E) ketika menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR.

Selang Pilkada 2018 rampung, Ganjar memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (28/6) hari ini. Ganjar mengaku ditanyai penyidik KPK terkait korupsi aliran dana KTP elektronik.

Ganjar mengatakan tidak mengetahui persoalan dugaan aliran dana KTP-E. Selain itu, Ganjar juga tidak mengenal tersangka Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung.

"Saya hari ini menepati janji, karena waktu ada pemanggilan saya meminta ditunda maka persis sehari setelah pencoblosan (Pilkada), saya datang untuk menghadiri undangan dari KPK terkait dengan kesaksian untuk Irvanto sama Pak Oka," ujar Ganjar di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, (28/6).

Edy Rahmayadi

Edy Rahmayadi kelahiran Aceh, 10 Maret 1961, seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang berdasarkan Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/593/VII/2015 tanggal 25 Juli 2015 ditugaskan menjadi Pangkostrad menggantikan Jenderal TNI Mulyono yang telah menjadi KSAD.

Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi lulusan Akademi Militer tahun 1985 berpengalaman dalam bidang infanteri. Jabatan sebelumnya adalah Panglima Kodam I/Bukit Barisan.

Edy RahmayadiEdy Rahmayadi calon gubernur Sumatera Utara. (Foto: Instagram/Edy Rahmayadi)

Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi anak dari Kapten TNI Rachman Ishaq, penduduk asli Kota Medan bersuku Melayu Deli. Edy Rahmayadi pernah menjabat sebagai Komandan Yonif Linud 100/Prajurit Setia yang bermarkas di Namu Sira-Sira, Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

Selama menggeluti dunia militer, Edy Rahmayadi meraih 11 penghargaan, di antaranya Bintang Dharma, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, SL Dharma Bantala, SL Kesetiaan VIII, XVI, XXIVSL, SL Dwidya Sistha, SL GOM IX, SL Dharma Nusa, dan terakhir SL Wira Karya.

Saat pemungutan suara dalam Kongres PSSI pada Kamis 10 Oktober 2016, Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2016-2020 usai mendapatkan 76 suara, lebih tinggi dari perolehan suara para pesaing terdekatnya, Moeldoko dan Eddy Rumpoko.

Untuk melanjutkan kendaraan politiknya, Edy Rahmayadi bersama Musa Rajekshah mendaftarkan diri sebagai pasangan calon (paslon) Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara (Pilkada Sumut).

Keduanya mendapatkan persaingan dari paslon gubernur dan wakil gubernur lainnya, Djarot Saifullah Hidayat-Sihar Sitorus.

Berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count dari sejumlah lembaga survei dalam pilkada yang dilaksanakan Rabu (27/6), Edy-Musa unggul sementara dari Djarot-Sihar.

Hitung cepat dari lembaga survei Indikator Politik Indonesia (IPI) menunjukkan dari suara yang masuk 57,67 persen, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah memperoleh 55,21 persen, dan Djarot-Sihar 44,79 persen.

Sementara dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA berdasarkan data yang masuk sebanyak 100 persen, pasangan Edy-Musa memimpin perolehan suara dengan persentase 57,12 persen. Sedangkan pasangan Djarot-Sihar memperoleh suara sebanyak 42,88 persen.

Proses quick count Pilkada Sumut 2018 ikut diselenggarakan lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Hasilnya, memenangkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumut Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah sebesar 58,88 persen. Sedangkan, pasangan Djarot-Sihar mendapatkan suara 41,12 persen, dari data yang masuk 99,33 persen.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) juga merilis hasil hitung cepat Pilkada Sumut 2018, dengan pasangan nomor urut 1 Edy-Musa unggul 56,52 persen dari pasangan nomor urut 2 Djarot-Sihar yang hanya memperoleh 43,48 persen. (ard)