Indonesia
Berdatangan ke Klenteng, Warga Keturunan Tionghoa Gorontalo Rayakan Imlek
Berdatangan ke klenteng, warga keturunan Tionghoa Gorontalo rayakan Imlek. "Imlek bukan hanya untuk orang klenteng, tapi bagi semua orang Tionghoa,” kata Robby.
PERSIAPAN JELANG IMLEK: Umat Tridharma memakaikan jubah kepada arca suci usai pelaksanaan cuci arca suci di klenteng Tulus Harapan Kita, Kota Gorontalo, Gorontalo pada Minggu (4/2). Mencuci arca suci, membersihkan, dan menata kembali klenteng dilakukan untuk menyambut Hari Raya Imlek. (Foto: Ant/Adiwinata Solihin).

Gorontalo, (Tagar 16/2/2018) – Warga keturunan Tionghoa Gorontalo merayakan Tahun Baru Imlek 2569 di Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Klenteng Tulus Harapan Kita, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Jumat (16/2).

Sejak Kamis (15/2) malam, puluhan umat Tridharma mulai berdatangan ke Klenteng untuk sembahyang jelang perayaan tahun baru.

Ketua TITD Klenteng Tulus Harapan Kita Robby Tansil mengatakan, setiap tahun jelang Imlek, seluruh umat selalu melakukan sembahyang. "Pada tahun baru ini kita berharap lebih baik dari tahun sebelumnya dalam suasana yang baik," ungkapnya.

Robby Tansil berharap, pada tahun ini Gorontalo selalu dalam keadaan aman dan selalu rukun serta umat saling tolong menolong.

"Imlek ini bukan hanya untuk orang klenteng, tapi merupakan tahun baru bagi semua orang Tionghoa dan merupakan hari besar," jelasnya.

Ia mengungkapkan, setelah perayaan Imlek, pada tanggal 19 Februari pihaknya akan melaksanakan sembahyang Tapikong turun, untuk menyambut dewa dewi.

"Pada sembahyang itu kita akan menanyakan apakah perayaan Cap Go Meh direstui," pungkasnya.

Sementara itu, Wiyan Paguna, salah seorang warga mengaku datang ke Klenteng untuk melihat perayaan Imlek dan memberikan selamat kepada warga yang merayakan Imlek.

"Ini merupakan bentuk toleransi antarumat beragama yang ada di Gorontalo dan juga untuk menjaga tali silaturahmi," ungkap Wiyan. (ant/yps)

Berita terkait
0
Uang Makan Napi Rp 20 Ribu, Rupan: Tidak Manusiawi
Besaran anggaran negara untuk narapidana di lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan sebesar Rp 20 ribu per tiap hari tidak manusiawi.