Surabaya (Tagar 23/5/2018) - Sebanyak 1.104 orang menjadi korban dugaan penipuan penjualan apartemen di Surabaya dan Sidoarjo yang dilakukan Sipoa Group.

Dugaan penipuan ini sudah terjadi sejak 2014 lalu, ketika mulai ada pembeli. Bahkan jumlah pembeli sudah 1.104 orang. Dalam kasus ini, Subdit Hardabangta Ditreskrimum Polda Jatim telah menetapkan dua tersangka yaitu direktur utama dan satu direktur lainnya.

Saat ini, kasus terus dikembangkan dan ada tambahan tersangka lagi menjadi sembilan tersangka. Sayangnya, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera tidak memberkan nama-nama tersangka baru itu. Yang jelas, lanjut Barung, tersangka baru ini adalah para direktur.

Frans Barung menandaskan sudah ada 619 orang yang telah membayar lunas pembelian apartemen. Dari hasil laporan para korban, Barung mengatakan seharusnya unit apartemen diserahkan pada para pembelinya pada akhir 2017 lalu. Namun, pihak manajemen belum bisa menyerahkan unit apartemen tersebut.

Atas ketidakjelasan itu maka para pembeli menjadi resah dan melaporkan dugaan penipuan tersebut ke Polda Jatim. "Pihak manajemen pernah mengumpulkan para pembeli, namun tidak ada kesepakatan," kata Frans Barung.

Ada 71 pembeli mengatas namakan paguyuban pembeli yang meminta pendampingan pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Universitas Airlangga (Unair) melapor ke Polda Jatim.

Frans Barung mengatakan dari fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada  bangunan apartemen yang didirikan Sipoa Group. Adanya hanya tiang pancang dan tembok di lokasi dimana akan dibangun apartemen.

Dari hasil penyelidikan, ada sembilan developer di bawah payung Sipoa Group yang mengerjakan berapa proyek apartemen tersebut. (lut)