UNTUK INDONESIA
Bagaimana Miskin Bisa Bersyukur?
Percuma para ustad atau pendeta teriak agar orang miskin tetap tabah dan bersyukur. Bagaimana orang miskin terus-menerus diminta bersyukur?
Ilustrasi

Tetanggaku, seorang ibu paruh baya, buka warung, jual makanan. Dia mengontrak tempat sederhana. Hidup dengan dua anak dan telah tujuh tahun ditinggal suami yang egois karena meninggal duluan.

Beban kontrakan, biaya sekolah anak dan biaya hidup sehari-hari diperoleh dari hasil jualan di warung itu.

Seminggu yang lalu dia panik. Pemilik rumah bikin surat pemutusan kontrak. Memang, sudah jatuh tempo. Alasan tempat mau dibangun oleh pemilik rumah yang mantan petugas pajak tersebut. Panik, waktu hanya diberi tiga hari.

Akupun ketiban sial, ngopi di waktu yang salah. Jadilah saya tempat curhat si ibu padahal  dia gak tahu bebanku pun lebih berat dari dia.

Sekadar cari tempat untuk tinggal tidaklah susah buat si ibu dan kedua anaknya. Tapi untuk tempat jualan tidaklah mudah, apalagi limitnya hanya tiga hari.

Wajahnya panik, jadi jelek-jelek luculah dengan logat wong kito galo. Dia tidak punya kendali terhadap alat produksi seperti tempat. Dia hanya punya alat masak, piring-piring yang dibeli dari arisan yang diikuti. Hidup sangat sulit, terlihat dari bajunya yang kadang tembus pandang, bukan tipis tapi ada sobekan-sobekan menggoda.

Ada keputusasaan berhadapan dengan pemilik tempat dan diniatkanlah untuk pulang ke Palembang.

Kopi terasa makin pahit, otak mampet untuk kasih saran. Dua anak yang masih remaja, lahir di Jakarta, tidaklah mudah untuk pulang ke kampung di Palembang sana. Saya tidak tahu apa motifnya curhat karena diapun pahamlah situasi. Saya balik kanan, minta ibu itu bersabar, masih ada waktu dua hari lagi.

Akupun mulai menghindar, bingung juga. Eh, sial pula, pas ke apotik seberang warung ibu itu, pas pula pemilik tempat datang.

Si ibu teriak memanggilku. Dia lantas memperkenalkan aku kepada pemilik tempat. Aku semakin mumet, gak tahu mau ngomong apa. Mereka berdebat, si ibu minta dikasih waktu untuk ngontrak setahun lagi. Si pemilik ngotot bahwa tempat mau dipakai untuk gudang.

Aku hanya diam. Maklum sifatku sudah mulai egois, agak menghindarlah dari urusan orang. Nurani jelas berpihak sama si ibu, tapi pemilik tempat juga punya hak dengan asetnya. Asetnya mau diapain kek suka-sukanya-lah.

Pada akhirnya si ibu diijinkan ngontrak setahun lagi dan si ibu plong. Dapat senyum aku dari si Ibu. Beres, dibayar, pemilik pulang. Si Ibu minta pamit mau solat. Kopiku nanggung masih kuteruskan, sambil ngobrol dengan anak bontotnya.

Setelah solat, si ibu lalu bercerita. Sangat bersyukur karena bla-bla-bla. Intinya bisa lanjutin hidup. Sangat berbeda dengan syukur orang lain karen nikmat yang diterima, bersyukur ulang tahun sambil makan di resto mahal.

Pas kuledek, setahun itu gak lama dan ibu mau apa, agak diam dia. Terbentang kesulitan yang akan dia jalani. Apalagi yang makan di warung juga makin berkurang. "Dijalani aja bang dan minta rejeki dari Allah," katanya. Luar biasa ibu ini....

Miskin, adalah tidak ada kendali terhadap alat produksi. Walau ada berbagai refrensi rujukan untuk menentukan seseorang itu miskin atau tidak, bukan hanya dari makanan dan sandang papan. Kendali ada pada negara dan juga individu atau kelompok tertentu.

Tanpa kendali, walau saat ini bisa hidup wajar, tapi ada di jurang kemiskinan. Begitu pabrik tutup, buruhpun sebagian nyungsep ke jurang kemiskinan.

Pada saat segelintir orang punya kendali kuat terhadap alat produksi, di saat yang sama sebagian besar ada di tepi jurang kemiskinan. Disparitas ekonomi melalui koefisien begini bisa dipakai sebagai alat ukur. Kesenjangan ekonomi selalu menjadi momok menakutkan dan hanya menunggu waktu untuk meledak dengan berbagai sumber pemicu.

Berbagai ideologi lahir utk memberi harapan kepada kaum miskin, dan Mbahnya itu Karl Marx, agar kaum miskin merebut kendali produksi melalui perjuangan kelas. Pemikiran Karl Marx dikemas jadi komunisme oleh Lenin. Ada berbagai varian ideologi ini, tapi vaksin anti virusnya adalah kesejahteraan masyarakat yang sudah dirumuskan dalam Pancasila, sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Percuma kita teriak anti komunis kalau kita membiarkan orang miskin makin miskin, membiarkan korupsi merajalela, dan tidak membayar pajak sebagaimana mestinya. Percuma kita teriak anti komunis kalau perekonomian dikendalikan segelintir orang tanpa batas dan batasan.

Percuma para ustad atau pendeta teriak agar orang miskin tetap tabah dan bersyukur. Bagaimana orang miskin terus-menerus diminta bersyukur?

Lihatlah Presiden Jokowi bagi-bagi tanah kepada rakyat miskin. Berjuang untuk mendapatkan saham Freeport 51%, berjuang membangun pemerataan infrastruktur di Papua, Maluku, dan daerah lainnya. Itulah bekerja menebar virus anti komunis di Indonesia, kok malah dituding komunis? Yang menebar komunis itu ya para koruptor itulah...

Penulis, Jen Maro

Foto Profil Jen Maro

Berita terkait
0
Paramedis Jangan Khawatir, Stok APD di Magelang Aman
Selain tercukupi, stok APD untuk paramedis dan pihak terkait di Kabupaten Magelang masih ada di gudang BPBD setempat.