UNTUK INDONESIA
Bagaimana Bank Indonesia Mencegah Resesi Ekonomi
Sejak mewabahnya pandemi Covid-19, Bank Indonesia tlah mengambil beberapa langkah guna mencegah resesi ekonomi di Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), didampingi Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kiri), Deputi Gubernur Erwin Rijanto (kedua kanan) dan Rosmaya Hadi di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (2/3/2020). (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso/ama)

Jakarta - Sejak mewabahnya pandemi Covid-19 ke berbagai belahan dunia, Bank Indonesia (BI) telah mengambil beberapa langkah guna mencegah risiko resesi ekonomi di Indonesia dengan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait.

Bank Indonesia meningkatkan Intensitas Triple Intervention dan Menurunkan GWM

Langkah pertama yang diambil guna menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan, yaitu dengan meningkatkan intensitas Triple Intervention. Yaitu dengan mengoptimalkan strategi intervensi di pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna menekan risiko peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah. Tujuannya agar nilai tukar rupiah bergerak mengikuti mekanisme pasar.

Baca Juga: BI: Utang Luar Negeri Indonesia Triwulan I Melambat

Langkah kedua, sejak 16 Maret 2020, BI juga telah menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) Valuta Asing Bank Umum Konvensional, dari 8% menjadi 4%. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi tekanan di pasar valas, sekaligus meningkatkan likuiditas valas di perbankan menjadi sekitar 3,2 miliar dolar AS.

Langkah ketiga, Bank Indonesia menurunkan GWM rupiah sebesar 200 bps untuk bank umum konvensional dan 50 bps untuk bank syariah. Dengan penurunan GWM, maka akan tersedia likuiditas tambahan hingga Rp 102 triliun. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat mempermudah kegiatan ekspor-impor melalui biaya yang lebih murah.

Dollar RupiahBerdasarkan kurs nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp16.000 per dolar AS. (Foto: Antara/Aprillio Akbar)

Bank Indonesia memperluas alternatif untuk investor global 

Langkah keempat, Bank Indonesia memperluas jenis underlying transaksi bagi investor asing sehingga dapat memberikan alternatif dalam rangka lindung nilai atas kepemilikan rupiah. Dan menegaskan kembali bahwa untuk investor global dalam melakukan kegiatan invetasi di Indonesia, dapat menggunakan bank kustodi dan domestik.

Adapun ketentuan bagi investor asing terkait lindung nilai dan posisi devisa neto adalah sebagai berikut;

1. Penggunaan rekening Rupiah dalam negeri (Vostro) bagi investor asing sebagai underlying transaksi dalam transaksi DNDF, sehingga dapat mendorong lebih banyak lindung nilai atas kepemilikan rupiah di Indonesia.

2. Pencatatan Transaksi DNDF dalam Posisi Devisa Neto (PDN), di mana transaksi DNDF diperhitungkan dalam PDN Bank dan dilaporkan ke BI, sehingga perbankan akan semakin longgar dalam bertranskasi di pasar valas.

Gubernur Bank Indonesia memperingatkan adanya risiko resesi ekonomi 

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga telah memperingatkan akan adanya peningkatan risiko resesi perekonomian global pada 2020. Hal tersebut menurutnya terjadi seiring dengan terbatasnya mobilitas manusia selama masa pengendalian kasus Covid-19, sehingga menyebabkan penurunan permintaan serta terganggunya proses produksi.

Risiko resesi ekonomi global tersebut, menurut Perry, terjadi pada kuartal II dan kuartal III 2020, dan mulai membaik pada Triwulan-IV 2020.

"Ekspor menurun akibat melambatnya permintaan, terganggunya rantai penawaran global, dan rendahnya harga komoditas global. Pembatasan sosial untuk mencegah virus berdampak pula pada pendapatan masyarakat. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi kita tahun 2020 dapat menuju 2,3 persen dan akan meningkat lebih tinggi pada tahun 2021," ujar Perry melalui konferensi video, Selasa, 14 April 2020.

Simak Pula: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,5 Persen 

Tentunya, Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan dan mempersiapkan strategi berikutnya untuk mencegah resesi ekonomi terjadi di Indonesia akibat dampak Pandemi Covid-19.[]

Berita terkait
Ekonomi Tumbuh 2,97 Persen, BI Klaim Karena Stimulus
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebutkan, stimulus fiskal mampu menopang petumbuhan ekonomi pada kisaran positif.
Jokowi Tekankan Indonesia Lawan Resesi Ekonomi Dunia
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia siap melawan resesi ekonomi dunia, meskipun dia tengarai tetap merugikan di sektor usaha.
Bersatu Solusi Atasi Covid-19 dan Resesi Ekonomi
Pandemi virus corona Covid-19 baru awal dari sebuah krisis, setelah itu akan berlanjut dengan resesi ekonomi.
0
Bioskop di Jakarta Sudah Dibuka, Begini Aturannya
Sejumlah bioskop termasuk CGV kembali dibuka. Dalam satu hari CGV hanya membuka 8 auditorium.