Yogyakarta - Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas pada Kamis 20 Juni 2019. Awan tersebut oleh warga setempat disebut wedhus gembel.

Dari puncak Merapi, awan itu meluncur sejauh 1.200 meter dan mengarah ke tenggara. Luncuran menuju ke Sungai Gendol.

Cuaca cerah membuat luncuran wedhus gembel terlihat jelas. Asap putih sollfatara yang membumbung tinggi juga terlihat jelas. Sejumlah warga mengabadikan momen tersebut.

Wresni Aji (50), warga Piyungan, Kabupaten Bantul mengatakan, asap putih terlihat membumbung ke atas, lalu mengarah ke barat karena mungkin tertiup angin. 

Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi tanggal 20 Juni 2019 pukul 09.17.

"Awan panas juga terlihat, meluncur ke arah tenggara," kata dia, Kamis, 20 Juni 2019.

Warga Cangkringan, Sleman, Heri Timbul (40), yang lebih dekat dengan puncak Merapi, juga melihatnya luncuran awan panas itu. 

"Terdengar suara gemuruh," katanya.

Menurut dia, warga sekitar Merapi sudah terbiasa mendengar suara gemuruh seperti itu. Suara seperti itu bisa dari perut bumi Merapi, luncuran awan panas atau truk pasir yang terperosok. 

"Kalau musim hujan, bisa juga (suara) petir," tutur Heri.

Status Waspada

Sementara itu, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida membenarkan Gunung Merapi mengeluarkan awan panas. 

"Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi tanggal 20 Juni 2019 pukul 09.17," katanya.

Menurut dia, awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 75 milimeter (mm) dengan durasi 120 detik. Sedangkan jarak luncur 1.200 meter, yang masih dalam batas aman. Batas aman jarak luncur awan panas menurut BPPTKG adalah 3 Km.

Akhir-akhir ini aktivitas Gunung Merapi memang meningkat. Namun statusnya masih dipertahankan pada level II atau waspada. []

Baca juga: