UNTUK INDONESIA
AS Hikam: Buku SAE Nababan Sumber Ilmu Pengetahuan
Menristek era Gus Dur, Muhammad AS Hikam sangat menyukai gaya penceritaan di Selagi Masih Siang buku catatan perjalanan SAE Nababan.
Dr Pdt SAE Nababan. (Foto: Tagar/Screenshot YouTube)

Pematangsiantar - Menteri Riset dan Teknologi di era Presiden Abdurrahman Wahid, Muhammad AS Hikam mengaku sangat menyukai gaya penceritaan di 'Selagi Masih Siang' buku catatan perjalanan Dr Pdt Soritua Albert Ernst Nababan, yang menurutnya menarik untuk terus dibaca.

“Rasanya cukup menegangkan meski berakhir bahagia,” kata AS Hikam saat menjadi panelis launching buku mantan Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) itu pada Sabtu, 15 Agustus 2020 kemarin.

Hikam menyoroti teologia keseimbangan yang diunggah oleh SAE Nababan adalah landasan moral spiritual yang selama ini menopang karya dan pemikirannya.

Hal itu bukan sekadar teori, namun dipraktikkan sendiri dalam banyak perjuangan SAE Nababan. Krisis HKBP karena intervensi rezim orde baru adalah contoh paling jelas bagaimana landasan moral itu diwujudkan dalam praktik.

Menurut AS Hikam visi politik berbasis spiritualitas dan moralitas yang dibangun, digemakan, dan dipraktikkan dalam berbagai wacana dan praksis perjuangan SAE Nababan memiliki paralel dengan yang dilakukan para pemimpin dan tokoh agama di seluruh dunia.

“Bagi saya perjuangan Pendeta Nababan bukan sekadar kenangan yang ditulis di buku, tapi juga sumber ilmu pengetahuan dari pengalaman hidup yang sangat berharga buat bangsa Indonesia,” tuturnya.

Diketahui, launching buku catatan perjalanan teolog terkenal itu dilakukan secara virtual dengan platform zoom meeting dan disiarkan secara live lewat akun Facebook dan YouTube SAE Nababan.

Tercatat sekitar 250 orang menyaksikan launching buku ini pada ketiga platform daring tersebut. Peluncuran ini diisi diskusi dan refleksi terkait hal-hal yang diunggah dalam buku.

Selain penulis, SAE Nababan, buku ini juga akan ditanggapi beberapa panelis, yaitu Pdt Dr Henriette Lebang, Prof Dr Muhammad A.S Hikam APU, dan Prof Dr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo.

Acara dipandu Aviva Nababan dan juga diisi testimoni putri almarhum Gus Dur, Alissa Wahid pimpinan Gereja Ortodoks Armenia HH Katolikos Aram I, dan Sekjen Dewan Gereja-gereja Asia Dr Mathews George Chunakara.

Testimoni Alissa Wahid, menyebut dirinya menyaksikan sendiri bagaimana SAE Nababan dan ayahnya sepenanggungan dalam sikap yang teguh mengusahakan keadilan dan melawan penindasan dari penguasa.

Pak Nababan adalah sosok pemimpin yang cakap mengerjakan amanat dalam waktu yang bersamaan

Alissa mengingatkan kembali momen saat NU dan HKBP pernah diintervensi pemerintah Orde Baru untuk memilih kepemimpinan yang tidak begitu kritis terhadap rezim.

Buku SAE NababanBuku SAE Nababan \'Selagi Masih Siang\'. (Foto: Tagar/Screenshot YouTube)

“Momen seperti itu adalah saat agama bisa bersuara melawan penindasan dan menyerukan keadilan. Di sini para pemimpin agama tidak lagi berdiam di menara gadingnya. Namun, mempraktikan kekuatan etika spiritualnya sebagai daya pendorong untuk melawan ketidakadilan dan penindasan,” kenang Alissa.

Sementara itu Kardinal Suharyo menggarisbawahi tema-tema yang diunggah dalam pemikiran SAE Nababan adalah kontekstualisasi kabar gembira Injil.

Ide-ide aktual seperti penekanan akan peran perempuan dan pemuda, dialog antar komunitas agama, gaya hidup dan kesenjangan sosial adalah hal-hal yang diunggah Pdt. Nababan sebagai refleksi spiritualnya akan nilai-nilai Injil.

Suharyo mengakui pengalaman keterbatasan, persahabatan dan perjumpaan dengan Tuhan telah membentuk pribadi SAE Nababan dan memampukannya melewati sejumlah perjuangan berat yang dihadapinya.

Pdt Henriette Lebang yang pernah bekerja bersama Nababan di banyak forum ekumenis, mengaku sangat bersyukur akhirnya buku ini bisa selesai.

Ia merasakan banyak aspek yang dapat diteladani dari SAE Nababan, terutama terkait disiplin dan ketelitian dan lebih utama terkait pengembangan kepemimpinan gereja, namun itu jarang diungkap karena sang pendeta enggan menghitung kebaikan yang dilakukannya.

“Pak Nababan adalah sosok pemimpin yang cakap mengerjakan amanat dalam waktu yang bersamaan dan tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya. Keterlibatan beliau selalu penuh. Uniknya kalau ada persoalan pelik, biasanya selalu dipercayakan pada beliau,” ungkap Henriette.

SAE Nababan merupakan pendeta di HKBP. Lahir di Tarutung, Taput pada 24 Mei 1933 dan menempuh studi teologia di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (sekarang STFT Jakarta), lalu Universitas Heidelberg Jerman.

Selain terlibat karya penggembalaannya sebagai seorang pendeta, SAE Nababan juga aktif dalam berbagai gerakan ekumenis di tingkat nasional dan dunia.

SAE Nababan dikenal kritis dan vokal menyuarakan isu kemanusiaan dan keadilan saat mengemban peran sebagai pimpinan gereja, baik di Dewan Gereja-gereja Indonesia maupun HKBP. Dalam banyak sisi, hal ini kerap membuatnya harus berhadap-hadapan dengan kepentingan rezim orde baru.

Cerita-cerita tersebut terekam dengan gaya refleksi pada buku 'Selagi Masih Siang'. 

Buku yang mengambil judul dari pesan Yesus di Injil Yohanes tersebut menyiratkan dua semangat pesan bagi gereja dan masyarakat di Indonesia, yaitu sebagai harapan dan kesempatan untuk terus giat berkarya, sekaligus lecutan untuk segera berbenah.

Buku terbitan BPK Gunung Mulia setebal 469 halaman ini terdiri dari 10 bab. 

Dimulai dengan mengulas secara kronologis perjalanan SAE Nababan dari masa kecilnya di Tarutung dan Siborong-borong, studi yang ditempuhnya di Jakarta hingga di Jerman, serta kiprahnya di gerakan ekumenis Indonesia dan dunia.

Kisah itu kemudian berkelindan dengan cerita SAE Nababan menjadi pendeta lalu menjadi pemimpin gereja di masa orde baru hingga jelang reformasi.

Dalam kesempatan launching ini SAE Nababan mengaku tidak layak menerima tanggapan yang begitu positif. 

Sejatinya ia agak sungkan menuliskan pengalaman hidupnya, namun karena dorongan keluarga ia meyakini bahwa apa yang dialaminya ini bisa berguna baik bagi generasi seangkatannya maupun generasi yang lebih muda.[]

Berita terkait
Jansen: SAE Nababan Pantas Terima Penghargaan Negara
Politikus Partai Demokrat Jansen Sitindaon mengungkapkan kekagumannya pada sosok Pdt SAE Nababan dan dia layak menerima penghargaan dari negara.
Peluncuran Buku SAE Nababan Teolog Kesohor dari HKBP
Buku catatan perjalanan Dr Soritua Albert Ernst Nababan berjudul "Selagi Masih Siang" akan diluncurkan pada Sabtu, 15 Agustu 2020.
Ephorus HKBP Minta Ibadah Paskah Dilakukan di Rumah
Ephorus mengatakan Peringatan Jumat Agung, Pesta Paskah I, dan Pesta Paskah II ibadah sebaiknya dilakukan di rumah masing-masing.
0
AS Hikam: Buku SAE Nababan Sumber Ilmu Pengetahuan
Menristek era Gus Dur, Muhammad AS Hikam sangat menyukai gaya penceritaan di Selagi Masih Siang buku catatan perjalanan SAE Nababan.