Oleh: Denny Siregar*

"Partai Demokrat tidak diuntungkan dalam Pilpres ini, mulailah konsentrasi pada Pileg."

Begitu kira-kira pernyataan AHY beberapa hari lalu. AHY yang bertugas mengawal Partai Demokrat karena SBY sedang menjaga istrinya Ani Yudhoyono di Singapura, terlihat tidak ingin larut dalam kompetisi politik menuju Pilpres 2019.

Kenapa? Karena suara Demokrat semakin lama semakin terpuruk.

Demokrat pernah mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2009, ketika suara mereka berada pada posisi tertinggi di antara semua partai dengan angka 20,4 persen. Sesudah SBY habis masa jabatannya di tahun 2014, suara Demokrat mulai anjlok di angka 10,19 persen.

Dan tahun 2019 ini, Demokrat diprediksi berada pada posisi terendah oleh LSI Denny JA dari 5 partai yang punya kans lolos ke Senayan, atau berada di kisaran suara 5,4 persen. Ini situasi yang berbahaya bagi Demokrat, karena jika suara Demokrat berada di bawah 4 persen, mereka bisa bubar dan punah.

Menariknya, peneliti senior LSI Rully Akbar mengatakan, bahwa salah satu faktor penyebab anjloknya suara Demokrat pada posisi paling bontot adalah karena cuitan-cuitan kontroversial Andi Arief, Wasekjen Demokrat.

Jangan sampai kelak keluar album baru dengan judul "Terlambat Sudah" yang berderai air mata. Mulailah seruput secangkir kopi dengan Jokowi untuk kali ini

Jadi bayangkan, ketika Andi Arief tertangkap basah di sebuah hotel bersama seperangkat alat narkoba, bersama seorang wanita dan satu pack kondom bergerigi, peristiwa ini jelas akan mengguncang suara Demokrat.

Kasus ini diperkirakan akan membuat Demokrat terpuruk dan bisa tidak lolos Parliamentary Threshold. Jika itu yang terjadi, kiamat bagi Demokrat.

Itulah mungkin yang menjawab kenapa mendadak akun Twitter Ferdinand Hutahean tidak bisa diakses lagi, karena sepertinya AHY mulai menginstruksikan kepada para petinggi untuk tidak mengeluarkan pernyataan kontroversial lagi. Lebih baik fokus merebut suara rakyat di kantong pemilihan daripada sibuk membela Capres yang tidak bisa ngaji.

Dan apa yang bisa menyelamatkan Demokrat dari situasi ini?

Tentu dengan pernyataan SBY sendiri, bahwa Demokrat akan berpaling kepada Jokowi. Ini penting bagi Demokrat untuk mengeluarkan sekoci dari kapal yang mau tenggelam ini. Toh, kader Demokrat sudah banyak yang pindah kapal.

Bahkan mantan Gubernur Jatim, Soekarwo, dengan tegas berkata bahwa 86 persen Caleg Demokrat sudah mendukung Jokowi.

Jadi Demokrat tunggu apa lagi?

Jangan sampai kelak keluar album baru dengan judul "Terlambat Sudah" yang berderai air mata. Mulailah seruput secangkir kopi dengan Jokowi untuk kali ini....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: