Yogyakarta - Alyza Firdaus Nabila, dibesarkan dari keluarga tidak mampu. Bapaknya, Jumari (58) bekerja sebagai pemulung. Ibunya, Nur Hayati (49) membuka jasa loundry atau cuci pakaian di rumahnya yang sempit.

Rumahnya berukuran 46 meter persegi. Lokasinya di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY. Tidak jauh dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul.

Lyza, sapaan akrabnya, sejak kecil bercita-cita ingin sekolah setinggi tinggi mungkin. Lyza juga menyadari keluarganya pas-pasan. Justru kondisi ini yang melecut semangatnya untuk rajin belajar.

Usahanya tidak sia-sia. Lyza selalu menduduki dua besar di bangku SD dan SMP. Bahkan sejak memasuki SMA selalu meraih peringkat pertama.

"Jika ada kemauan pasti ada jalannya. Itu prinsipnya. Saya terus berdoa, belajar, berusaha," kata Lyza yang almuni SMA 1 Sewon, Kabupaten Bantul, Rabu 15 Mei 2019.

Prestasi demi prestasi di sekolah formal ini membuahkan hasil. Dia pun berhasil masuk UGM tanpa tes. 

Syukur alhamdulillah, akhirnya bisa diterima di UGM.

Lyza berhasil masuk kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Dia diterima kuliah di UGM tanpa tes melalui jalur SNMPTN Undangan. Saat ini Lyza mengajukan beasiswa Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi) agar mendapat keringanan biaya pendidikan selama kuliah di kampus yang berdiri sejak 1949 ini.

Lyza berharap, dengan kuliah bisa mengangkat kehidupan keluarga secara ekonomi. "Saya bercita-cita setelah sukses nanti, bisa memberangkatkan orangtua ke Tanah Suci," katanya.

Bapak Lyza, Jumari, sebelumnya tidak pernah membayangkan Lyza bisa kuliah di UGM. Dia ingat betul, saat keluarganya mengalami titik nadir dalam hidup, anak pertamanya terpaksa putus sekolah.

"Saya masih ingat, anak saya yang pertama terpaksa putus sekolah di bangku SMA. Saat itu kami tidak mampu membayar uang sekolah," kenang Jumari.

Kehidupan keluarga Jumari sangat minim. Pekerjaan utamanya memungut sampah dari rumah ke rumah, lalu dimasukkan ke mobil pick up usang yang disewanya. Pekerjaan itu dilakukannya dibantu anak sulungnya yang putus sekolah SMA.

Setiap dua hari sekali, Jumari berkeliling mengambil sampah dari rumah ke rumah, lalu diantarkan ke TPST Piyungan. Pekerjaan itu sudah dilakoni selama 13 tahun terakhir agar dapur bisa terus mengepul.

Jumari sempat menjadi sopir pribadi. Namun usianya yang terus menua, membuatnya memilih pekerjaan sebagai pemungut sampah.Untuk menambah penghasilan, istrinya membuka jasa loundry di rumah. "Dari angkut sampah dan usaha cucian, rata-rata dapat Rp 1,5 juta per bulan," jelasnya.

Penghasilan bulanan yang minim itu, hanya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga Jumari tidak pernah berpikir anaknya akan bisa melanjutkan pendidikan sampai kuliah. "Kami sama sekali tidak membayangkan, Lyza bisa diterima kuliah di UGM," ujarnya.

Nur Hayati bersyukur anak-anaknya memahami kondisi keluarga. Mereka tidak pernah menuntut macam-macam. "Orang Jawa bilang, nrima ing pandum (menerima apa adanya)," kata dia.

Dia mengatakan, Lyza termasuk anak yang tekun belajar dan rajin beribadah. Usaha kerasnya dalam belajar membuahkan hasil yang membanggakan keluarga. "Anak kami bisa diterima kuliah di UGM adalah kebahagiaan tertinggi bagi keluarga kami," ujarnya. 

Baca juga: