Oleh: Eko Kuntadhi*

Sore itu di pelataran Gelora Bung Karno Senayan, seperti ada api yang membakar. Seorang lelaki kurus berkemeja putih berpadu dengan celana jeans, berdiri di atas panggung. Ia menyampaikan pidato yang membakar.

"Siapa bilang Indonesia akan bubar? Tidak. Sekali lagi tidak. Siapa bilang Indonesia akan punah. Tidak. Kita berdiri di sini untuk menjaga merah putih. Menjaga bangsa dan negara ini," katanya berapi-api. Wajahnya sedikit berkeringat, tapi lautan massa di depannya membuat ia bersemangat.

"Kita ini bangsa yang besar. Bangsa yang kaya. Kita akan membangun bangsa ini dengan optimisme. Optismisme. Saya tegaskan, optimisme!"

"Untuk hari depan bangsa ini, tidak ada tempat bagi orang pesimis."

Massa di bawahnya bersorak. Mereka ingin meyakinkan lelaki kurus di atas panggung itu, menggenggam tangannya. Lalu berkata. "Ayo, kita bikin janji. Majulah ke depan. Kami berdiri di belakangmu. Mengikuti arahmu. Peganglah kemudi bangsa ini. Bawalah kami ke massa depan gemilang itu."

Ribuan massa berkumpul memenuhi area. Sebagian seusia om dan tante. Juga anak-anak muda yang masih kinyis-kinyis. Dari kaos yang dikenakan, saya membaca berbagai nama universitas.

Ada teman-teman alumni UI, rata-rata berkaos kuning. Ada alumni ITB dengan kaos bernuansa biru, ada yang dari Unpad, ITS, Pancasila, Trisakti, UGM, IPB, USU, Unsud dan berbagai kampus lainnya.

Yang tidak hadir hanya alumni 212 saja. Mungkin mereka gak hadir karena rektornya sampai sekarang masih umrah, gak pulang-pulang.

Para alumni itu datang sendiri. Tidak ada yang mengerahkan. Kaos yang dikenakan harus dibeli sendiri. Makan dan minum bayar sendiri. Sebelum acara dimulai, sebuah mal dekat lokasi acara jadi lautan cebong dan ajang reuni. Para om dan tante berseri berjumpa dengan rekannya saat kuliah dulu.

"Kalau begini, ingat peristiwa 1998," kisah seorang peserta. Saat itu, katanya, bersama mahasiswa lain mereka turun ke jalan menumbangkan seorang diktator besar. Semangat dan jiwa muda yang rupanya membakar mereka lagi sore itu.

"Dulu kita bersabung nyawa di jalan melawan penguasa Orde Baru, agar Presiden Soeharto lengser. Kita bermimpi Indonesia dipimpin oleh orang yang bersih. Jujur. Amanah. Mau kerja keras. Jauh dari KKN."

"Sekarang Allah telah membukakan mata kita. Ternyata kita memiliki seorang Jokowi. Sebagai model presiden yang dulu kita mimpikan. Yang dulu kita perjuangkan dengan segala risikonya. Karena alasan itulah kita semua berkumpul. Memperjuangkan pemimpin yang kreterianya sudah kita perjuangkan sejak dulu."

Sore itu dibacakan deklarasi dukungan para alumni universitas ternama kepada Jokowi-Amin. Sebuah momen politik memang. Tapi, ini bukan hanya peristiwa politik.

Lautan manusia di pelataran GBK itu hadir bukan hanya memperjuangkan seorang Capres agar terpilih kembali. Saya menangkap, semua orang sedang geregetan melihat politik kita yang belepotan dengan fitnah dan hoaks. Politik kita banyak menyemburkan pesimisme dan ketakutan.

Karena itulah mereka hadir untuk memperjuangkan akal sehatnya. Agar isi kepalanya tidak menciut di tengah lautan ketidakwarasan dalam politik.

Ketika kewarasan publik ditekuk oleh politisi busuk, para alumni yang pernah duduk di perguruan tinggi seperti ditampar. Mereka berkumpul lagi. Sekadar mengingatkan bahwa dulu di ruang kelas, mereka diajarkan berpikir normal. Bukan berpikir terbolak-balik.

Mungkin dukungan kepada Jokowi-Amin terkesan sebagai momen politik. Tapi, jauh dari itu, saya rasa semacam simbol perjuangan akal sehat.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial