Yogyakarta, (Tagar 8/2/2019) - Awan panas Gunung Merapi atau warga sekitar menyebutnya wedhus gembel, Kamis (7/2) kembali meluncur sejauh 2 kilometer. Wedhus gembel ini memiliki suhu yang sangat panas.

Pada saat erupsi Merapi 2010 lalu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memperkirakan suhu wedhus gembel mencapai 800 derajat celcius. Sesuatu yang dilalui wedhus gembel langsung terbakar dan menjadi abu.

Informasi mengenai luncuran awan panas yang terjadi tadi malam, BPPTKG Yogyakarta mengumumkannya melalui akun twitter resminya. "Awan panas guguran teramati di Gunung #Merapi pukul 18.28 WIB, dengan jarak luncur ± 2 km ke arah hulu Kali Gendol, amplitudo 70 dengan durasi 215 detik. #statuswaspada," tulis akun resmi BPPTKG @BPPTKG (https://t.co/1RFKkWvKww), Kamis (7/2) petang.

Saat dikonfirmasi Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santoso Agus membenarkan hal itu. Aktivitas Merapi juga mengalami peningkatan. "Sejak kemarin aktivitas Merapi meningkat, guguran lava juga terjadi peningkatan," katanya di Yogyakarta, Jumat (8/2).

Agus menjelaskan, aktivitas erupsi Merapi meningkat jika ditarik sejak terbentuknya kubah lava pertama pada 11 Agustus 2018 lalu. Pada awal-awal terbentuknya kubah lava aktivitasnya masih fluktuatif, naik turun. "Tapi akhir-akhir ini trend mengalami kenaikan," imbuhnya.

Menurut dia,  sejak kubah lava terbentuk, tercatat awan panas Gunung Merapi pertama muncul pada Selasa (29/1) malam lalu. Saat itu meluncur sejauh 1,4 km. "Sedangkan awan panas tadi malam sudah 2 kilometer," katanya.

Dengan kata lain, kata Agus, aktivitas erupsi Merapi cenderung meningkat. Sedangkan status masih waspada atau level III. "Kenapa (status) masih dipertahankan pada level III, karena kita memprediksi atas dampak yang berpotensi terjadi. Ini juga sekaligus untuk melindungi masyarakat," ujarnya.

BPPTKG Yogyakarta mengimbau agar masyarakat khususnya warga di lereng Merapi meningkatkan kewaspadaan. Aset-aset yang dekat dengan spot-spot lava yang dekat untuk diamankan seperti misalnya di Klangon. "Ini sebagai langkah mengantisipasi awan panas (meluncur) lebih jauh lagi. Kita tidak tahu setelah 2 kilometer ini apakah bisa lebih jauh lagi," jelasnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana mengatakan, sejak erupsi freatik Gunung Merapi, pengkondisian terhadap masyarakat lereng Merapi terus dilakukan. "Kondisi masyarakat saat ini tetap tenang dan kondusif. Kita berharap masyakarat terus meningkatkan kewaspadaan," katanya.

Menurut dia, pos pemantauan, posko dan pos-pos ronda di sekitar Gunung Merapi terus diaktifkan. "Ini sebagai tempat di mana masyarakat mendapat up date informasi aktifitas Merapi. Update informasi melalui media sosial milik lembaga-lembaga yang berkompeten terus ditingkatkan," ujarnya.

Biwara mengatakan, kunci pengurangan resiko bencana Merapi adalah kecepatan dalam merespon secara tepat atas informasi perkembangan Merapi yang dikeluarkan oleh BPPTKG Yogyakarta dan BPBD DIY. "Kecepatan respon tersebut juga dipengaruhi oleh kesiapsiagaan masyarakat, misalnya yang paling sederhana adalah masker untuk antisipasi hujan abu," jelasnya.

Mantan Kepala Bagian Humas Biro Umum Humas dan Protokol Setda DIY ini mengungkapkan, pemerintah terus melakukan dukungan mobilitas untuk evakuasi,  menanamkan pemahaman masyarakat tentang jalur evakuasi, titik kumpul dan barak pengungsian. "Ini terus dilakukan untuk evakuasi bila ada peningkatan status Merapi," tegasnya.

Menurut dia, saat ini status Merapi masih waspada atau level III, maka masyarakat tetap bisa beraktivitas seperti biasa, sektor pariwisata di sekitar Merapi tetap berjalan seperti biasa namun tetap menjaga kewaspadaan. "Pendakian tetap tidak diizinkan, radius 3 kilometer dari puncak Merapi tetap clear dari aktifitas penduduk," ungkapnya.

Sedangkan persediaan masker sebagai dampak hujan abu Merapi, stok di level kabupaten masih mencukupi. Selain itu stok masker juga masih diback up oleh BPBD DIY, Dinas Kesehatan DIY, dan PMI DIY. []