Jakarta, (Tagar 12/1/2019) - Ahok Basuki Tjahaja Purnama sesuai jadwal dua belas hari lagi bisa menghirup udara segar, bebas dari penjara Mako Brimob Kelapa Dua Depok.

Andi Analta Baso Amier kakak angkat Ahok mengatakan tak ada persiapan khusus untuk menyambut hari itu. Ia mengatakan pihak keluarga sengaja menghindari euforia. 

Pada Selasa malam (8/1) Andi Analta menerima Tagar News untuk wawancara khusus di kediamannya di kawasan Wijaya 1 Jakarta Selatan. Andi bercerita banyak perihal sejarah hubungan kekerabatan keluarga besarnya dengan keluarga Ahok.

Selasa itu rupanya merupakan hari ulang tahun ke-56 Andi Analta. Banyak keluarga datang ke rumahnya untuk makan bersama dalam rasa syukur. 

Rupanya juga Ahok memberikan hadiah khusus untuk Andi Analta, berupa catatan tangan yang ditulis di balik jeruji besi penjara. Andi mengunggah catatan adik angkatnya itu di akun Facebooknya.

Pada secarik kertas, Ahok menulis: 

"Kak Ala, selamat ulang tahun (8 Januari 2019). Sehat, sukses dan penuh sukacita serta dipenuhi damai sejahtera. Allah dalam setiap langkah hidupnya. Selalu melaksanakan Sunnah Nabi. Tuhan mengasihi Kak Ala dan keluarganya. Salam dari Mako Brimob. BTP Basuki Tjahaja Purnama."

AhokCatatan tangan Ahok Basuki Tjahaja Purnama untuk kakak angkatnya, Andi Analta Baso Amier yang berulang tahun pada Selasa 8 Januari 2019. (Foto: Facebook/Andi Analta)

Ayah Ahok Mengagumi Jenderal M Yusuf

Andi Analta menceritakan awal mula persahabatan keluarga besarnya dengan keluarga besar Ahok yang berlangsung baik hingga sekarang.

Berikut penuturan Andi Analta selengkapnya:

"Keluarga besar Baso Amier berasal dari Bugis Muslim menjalin persahabatan dengan keluarga ayah Ahok,  Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) beretnis Tionghoa Kristen, sejak tahun 1979. Kedua keluarga berbeda latar belakang ini bersatu dalam sebuah hubungan yang guyub, rukun.

Sederhananya gini, dulu ayah Ahok itu sangat mengidolakan paman saya, Jenderal M Yusuf yang waktu itu menjabat sebagai Pangab (Panglima ABRI) sekaligus Menhankam (Menteri Pertahanan Keamanan). Kekaguman ayah Ahok karena paman saya dinilai memiliki warna yang sama dengan beliau, yaitu sebagai figur yang idealisme, wabil khusus dalam hal mengelola administrasi negara.

Kekaguman ayah Ahok hanya sebatas kekaguman tanpa bisa berkomunikasi secara intens, karena karakter paman saya itu memang sangat kaku ya. Dari kegigihan dan usaha keras ayah Ahok mendekati paman saya itu akhirnya justru membuat beliau akrab dengan ayah saya, adik dari Jenderal M Yusuf itu.

Kami anak-anaknya tidak ada yang tahu kalau ayah Ahok itu dulu punya, katakanlah perjanjian lah ya dengan ayah saya. Kalau Ahok itu dititipkan kepada keluarga saya oleh ayah Ahok sebelum beliau meninggal. Kami baru tahu saat ibu saya cerita.

Kalau secara awal persahabatan keluarga itu sekitar tahun 1978-1979. Hubungan baik terus berlanjut sampai ke anak cucu karena kami memang diajak (dilibatkan). Dalam arti, kami ini anak-anaknya ikut nimbrung gitu loh di berbagai pembicaraan. Dan itu bisa dari pagi, sore, malam kadang sampai larut. Bahkan menginap. Nah dari situ, Ahok mulai kelihatan kalau dia itu pemuda yang visioner. Tidak sesuai dengan umur. Terbentuknya di situ."

Dianggap Rekayasa

Andi Analta juga menceritakan ihwal serangan-serangan yang sempat menghampiri dirinya saat dulu membela Ahok. 

Serangan itu antara lain berupa tuduhan yang mengatakan bahwa kemunculannya adalah sebuah rekayasa demi membela Ahok dari jeratan hukum, dengan mengaku-aku sebagai bagian dari kerabat dekat Ahok.

"Yang berusaha dikembangkan oleh orang-orang itu, yang terbiasa dengan cara-cara politik kotor itu ya agar orang tidak yakin kalau saya, kami ini memang memiliki hubungan historis. Dianggapnya ini adalah rekayasa, atau saya dimunculkan sebagai figur yang membela dia (Ahok)," tegas Andi.

Serangan Fisik Juga

Selain serangan secara psikologis, Andi juga sempat mendapat serangan secara fisik berupa pengrusakan mobil miliknya oleh orang tidak dikenal. 

Ia mengatakan serangan-serangan itu merupakan risiko dari usahanya menegakkan apa yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran.

"Kami tidak membela Ahok. Kami membela apa yang seharusnya kami bela, yaitu kebenaran. Yang namanya agama itu, kami bukan agama turunan. Bukan kami ini ingin mengklaim diri kami ini sebagai orang yang paling paham soal agama, tapi coba tanya kepada ulama-ulama dan pakar-pakar agama, kumpulkan dan tanya mana dalilnya Ahok menista agama," tutup Andi. []