97% Warga Australia Tidak Percaya Kepada Influencer

Menurut survei di Australia influencer adalah golongan yang paling tidak dipercaya dibanding dengan golongan-gologan lain
Influencer Australian di bidang fitness, Kayla Itsines, memiliki 30 juta pengikut di Facebook dan 13 juta di Instagram (Foto: abc.net.au/indonesian - Facebook: k.itsines)

Oleh: Markus Mannheim

Walau media sosial merupakan salah satu platform yang berpengaruh di manapun termasuk di Australia, tapi para influencer tidak masuk ke dalam kelompok orang yang mendapat kepercayaan dari publik. Banyak warga Australia melihat "informasi keliru" merupakan ancaman besar dibandingkan masalah lain.

Menurut penelitian yang dilakukan ABC dalam proyek bernama “Australia Talks” menunjukkan sekitar 60 ribu orang menjawab berbagai pertanyaan, salah satu hal yang dikhawatirkan adalah informasi palsu.

Selain itu, jawaban dari partisipan juga menunjukkan rendahnya kepercayaan terhadap media tradisional.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bagaimana pandangan warga terhadap kelompok profesional dengan pengukuhan bahwa kepercayaan terhadap dokter dan perawat di Australia masih tetap tinggi. Survei menunjukkan 97% warga Australia yang disurvei mengatakan mereka percaya dokter dan perawat.

Rasa percaya terhadap ilmuwan dan polisi masih tetap tinggi, demikian juga terhadap hakim dan personel militer, meski sedikit menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Tingkat kepercayaan terhadap para pemimpin agama juga ditemukan rendah, dengan 74% warga Australia mengatakan "tidak banyak" atau "tidak percaya sama sekali" kepada mereka.

Angka lebih rendah lagi adalah terhadap para selebriti, dengan tingkat ketidakpercayaan sebesar 93%. Kepercayaan yang lebih rendah lagi, sebanyak 97%, adalah terhadap influencer. Hanya 3% yang mengatakan mereka percaya dengan influencer di media sosial

grafik tingkat kepercayaan warga australiaGrafik tingkat kepercayaan warga Australia terhadap berbagai kalangan (Foto: abc.net.au/Indonesian)

Influencer adalah individu pemilik akun media sosial yang menggunakannya untuk memberikan dukungan terhadap hal yang disukainya, bisa karena ketertarikan pribadi ataupun untuk mendapat bayaran.

Walau tidak mendapat kepercayaan dari publik, peran para influencer ini di media sosial seperti Instagram, YouTube atau Tiktok semakin meningkat.

model tammyModel Tammy Hembrow adalah salah satu model Australia yang memiliki paling banyak pengikut di Instagram (Foto: abc.net.au/Indonesian - Instagram: tammyhembrow)

Dan dalam survei, ada pertanyaaan apakah kita semua secara tidak sadar kadang dipengaruhi oleh para influencer dan jawabannya adalah "ya".

Influencer efektif karena dia 'seperti kamu dan saya'

Sebagai sebuah industri, kehadiran para influencer di media sosial meningkat jumlahnya dua kali lipat selama dua tahun terakhir, sementara pengaruh media tradisional seperti koran dan televisi terus menurun.

Salah seorang influencer paling terkenal di Australia adalah Kayla Itsines yang memiliki 30 juta pengikut di Facebook, dan 13 juta pengikut di Instagram.

Kayla banyak memuat postingan mengenai fitness dan mewakili sebagian besar para influencer dengan ciri-ciri umum seperti masih muda, suka tersenyum dan mengenakan pakaian olahraga.

Namun semakin banyak juga para influencer tidak berbeda dengan orang kebanyakan.

pakar masalah komputerPakar masalah komputer University of Melbourne Dana McKay meneliti bagaimana manusia mencerna informasi untuk membuat keputusan (Foto: abc.net.au/Indonesian - Supplied: University of Melbourne)

Pakar masalah komputer University of Melbourne Dana McKay melakukan penelitian mengenai bagaimana kita mencerna informasi yang mempengaruhi keputusan yang kita ambil.

"Tidak seorangpun di antara kita berpikir kita sebenarnya dipengaruhi, kita berpikir bahwa kita lebih pintar dari pemasang iklan," kata Dr McKay.

"Namun kenyataannya para influencer itu semakin banyak digunakan dan semakin mendapat banyak bayaran karena mereka lebih efektif."

Dr McKay mengatakan mereka yang menemukan produk lewat pencarian sendiri di media sosial lebih besar kemungkinan terpengaruh atas informasi tersebut dibandingkan iklan tradisional, walau kedua-keduanya berpengaruh.

"Rasanya lebih alamiah dibandingkan melihat iklan di televisi atau iklan pop up yang tiba-tiba muncul di layar," katanya.

"Marketing sangat kuat tetapi sesuatu yang kita anggap tidak berusaha mempengaruhi kita, tentu saja sebenarnya lebih berpengaruh.

"Khususnya bila itu datang dari seseorang yang tampaknya tidak berbeda jauh dari diri kita sendiri," katanya.

Proyek ABC Australia Talks juga juga menemukan bahwa bagi kebanyakan warga Australia (79%) bahwa semakin susah menemukan sumber informasi mana yang bisa dipercaya.

Dan kepercayaan terhadap wartawan pun berada di titik tengah, 50% percaya sementara jumlah yang sama juga tidak percaya.

Dengan itu, tampaknya mulai sekarang menemukan fakta yang benar di tengah-tengah derasnya informasi yang ada akan menjadi kegiatan sehari-hari dalam hidup kita (Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News)/abc.net.au/indonesian. [] 

Berita terkait
DPR: Tokoh - Influencer Vaksinasi Jangan Buat Ambyar
anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher menegaskan bahwa vaksin bukanlah senjata pamungkas untuk menurunkan angka positif Covid-19.
Influencer Tidak Untuk Teruskan Pesan ke Buzzer
Donny sebut penggunaan influencer digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan kepada masyarakat, dan tak berhubungan dengan peran buzzer.
0
Pancasila, Nilai Luhur Bangsa Penuntun di Kegelapan
Nilai-nilai dalam Pancasila merupakan perasan dari nilai kehidupan bangsa yang bisa menuntun seluruh anak bangsa untuk berfikir dan bersikap.