8 Maskapai Penerbangan Indonesia yang Tinggal Nama

Dalam sejarah aviasi Indonesia, tercatat ada beberapa perusahaan yang pernah beroperasi namun berhenti karena berbagai faktor, rata-rata keuangan.
Ilustrasi maskpai penerbangan (Foto: Tagar/Pixabay)

Jakarta - Tidak banyak yang tidak tahu, transportasi udara yang mewarnai langit nusantara rupanya memiliki maskapai yang jumlahnya hampir puluhan. Dalam sejarah aviasi Indonesia, tercatat ada beberapa perusahaan yang pernah beroperasi namun berhenti karena berbagai faktor, rata-rata keuangan. Berikut daftar maskapai penerbangan Indonesia yang kini tinggal nama.


1. Adam Air

PT. Adam SkyConnection Airlines didirikan oleh Sandra Ang dan Agung Laksono, yang juga menjabat sebagai Ketua DPR saat itu. Maskapai mulai beroperasi 19 Desember 2003 menggunakan dua Boeing 737 sewaan dengan penerbangan perdana ke Balikpapan.

Di masa jayanya, perusahaan swasta ini sempat disebut sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier terbaik di Indonesia. Jangkauan rute maupun penambahan armada pesawatnya terbilang ekspansif sejak didirikan pada tahun 2002.

Namun, sebuah kecelakaan naas pesawat Adam Air KI 457 rute Jakarta-Manado mengalami insiden kecelakaan di atas perairan Majene setelah hilang dari radar. Seluruh penumpang dan awaknya yang berjumlah 102 orang dinyatakan meninggal.

Tak lama reputasi hancur, pada 18 Maret 2008, izin terbang atau Operation Specification Adam Air dicabut Kementerian Perhubungan melalui surat bernomor AU/1724/DSKU/0862/2008.

Isinya menyatakan bahwa Adam Air tidak diizinkan lagi menerbangkan pesawatnya berlaku efektif mulai pukul 00.00 tanggal 19 Maret 2008. Sedangkan AOC (Aircraft Operator Certificate)nya juga ikut dicabut pada 19 Juni 2008, mengakhiri semua operasi penerbangan Adam Air.


2. Merpati Airlines

Maskapai penerbangan ini milik pemerintah yang beroperasi sejak era Presiden Soekarno, didirikan tahun 1962. Saat itu, belum ada transportasi mumpuni untuk menghubungkan Indonesia yang berbentuk kepulauan. Sehingga pemerintah merasa perlu untuk membangun maskapai yang khusus melayani penerbangan-penerbangan perintis.

Selama puluhan tahun, Merpati mengalami masalah keuangan, namun selalu diselamatkan pemerintah. Beberapa kali pemerintah melakukan upaya restrukturisasi. Puncaknya, Merpati berhenti beroperasi pada tahun 2014 akibat terus merugi dan lilitan utang. Meskipun sudah berhenti operasi, pemerintah hingga saat ini belum memutuskan untuk melikuidasi Merpati.


3. Batavia Air

Maskapai bernama PT Metro Batavia mulai beroperasi pada 5 Januari 2002. Batavia Air tak hanya melayani penerbangan domestik, namun juga sejumlah rute internasional dengan menggunakan pesawat Airbus A330-300 dan A320-200.

Pada 30 Januari 2013, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan pailit PT Metro Batavia. Digugat pailit oleh International Lease Finance Corporation (ILFC). Batavia memiliki utang sebesar 4.688.064,07 dollar AS atau setara lebih dari Rp 45 miliar kepada ILFC. Sejak itu, maskapai tersebut berhenti beroperasi dan bangkrut.


4. Sempati Air

Didirikan pada Desember 1968 dengan nama PT Sempati Air Transport yang melakukan ekspansi besar selama akhir 1980-an hingga 1990-an. Sempati memulai penerbangan perdananya pada Maret 1969 menggunakan pesawat DC-3.

Awalnya, Sempati hanya menawarkan jasa transportasi bagi karyawan perusahaan minyak, namun setelah DC-3 tambahan serta Fokker F27 dibeli, Sempati memulai penerbangan berjadwal ke Singapura, Kuala Lumpur dan Manila. Maskapai ini juga dikenal dengan pelayanannya yang prima.

Ketika krisis moneter 1998 menghantam Indonesia, Sempati Air terpaksa menjual atau mengembalikan pesawatnya. Sempati Air berhenti beroperasi sejak 5 Juni 1998. Kabarnya, kebangkrutan juga disebabkan kesalahan manajemen.


5. Mandala Airlines

Mandala Airlines, yang kemudian bernama Tiger Air, pertama kali beroperasi pada 17 April 1969. Maskapai ini kemudian dibeli oleh Indigo Partners dan Cardig International pada tahun 2006.

Karena masalah utang, Mandala berhenti beroperasi pada tanggal 12 Januari 2011. Akhir Februari 2011, para kreditur menyetujui restrukturisasi utang Mandala menjadi saham dan kembali beroperasi pada bulan Juni 2011.

Sebagai bagian restrukturisasi, pemegang saham mayoritas adalah PT Saratoga Investment Group (51 persen), Tiger Airways dari Singapura (33 persen), serta pemegang saham lama dan para kreditur (16 persen). Namun, Mandala menghentikan kegiatan operasionalnya mulai 1 Juli 2014 lantaran kondisi pasar turun dan biaya operasional membengkak karena depresiasi rupiah.


6. Bouraq Indonesia Airlines

Maskapai ini didirikan pada tahun 1970 oleh Jerry Sumendap, pengusaha asli Manado yang menggeluti bisnis kayu. Bouraq mencapai puncak bisnisnya pada era 1980-an. Selama tiga dekade beroperasi, sampai pada tahun 1997 Bouraq bahkan memiliki 10 (sepuluh) buah Hawker Siddeley 748 dan 8 (delapan) B-737-200.

Pada tahun 1995, Jerry Sumendap wafat. Di bawah kepemimpinan Danny Sumendap, putra dari J.A. Sumendap, Bouraq akhirnya mengambil bermacam langkah strategis agar msmpu tetap bertahan, seperti penciutan armada, menutup beberapa operasi jalur penerbangan yang dinilai kurang menguntungkan.

Namun apa daya, pada penghujung 2004 maskapai penerbangan ini telah berhenti beroperasi karena kalah bersaing dengan operator penerbangan yang baru yang bermunculan di awal masa reformasi.


7. Indonesia Airlines

PT Indonesian Airlines Aviapatria didirikan tahun 1999 dan mulai beroperasi Maret 2001. Pada September 1999, ia memperoleh izin dari pemerintah Indonesia untuk melakukan penerbangan berjadwal di 46 rute.

Perusahaan ini dimiliki oleh investor perorangan (75%) dan Rudy Setyopurnomo (25%), Presiden Direktur maskapai ini. Indonesian Airlines menghentikan operasinya pada tahun 2003. Setelah itu kantor pusatnya juga ditutup.

Rudy Setyopurnomo kemudian bekerja pada Grup RGM Group yang mengoperasikan 4 pesawat kecil sebelum akhirnya dipilih Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk memimpin maskapai pelat merah, PT Merpati Nusantara Airlines (MNA).


8. Linus Airways

Linus Airways adalah salah satu maskapai penerbangan regional Indonesia. Maskapai ini pernah melayani beberapa kota di Indonesia antar lain Pekanbaru, Medan, Semarang, Palembang, Batam dan Bandung.

LINUS sendiri merupakan kependekan dari 'Lintasan Nusantara'. Linus Airways yang berbadan hukum perseroan PT Linus Airways sejak 1 Juni 2004 ini, baru mengantongi ijin terbang (Air Operator Certificate/AOC) no 121-029 dari Kementerian Perhubungan 13 Februari 2008.

Dikarenakan alasan kesulitan likuiditas maka terpaksa pemerintah secara resmi telah mencabut izin rute Linus Air, sehingga menghentikan layanannya sejak 27 April 2009.

(Vidiana Lihayati)


Baca juga:



 

Berita terkait
Tips Merencanakan Liburan dengan Anak Saat Pandemi
Hampir semua orang ingin merasakan kebebasan berwisata sama seperti sebelum datang Covid-19. Nah, berikut tips merencanakan liburan saat pandemi.
Tips Liburan Merayakan Tahun Baru di Rumah saat Pandemi
Di tengah pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai, berikut tips merayakan tahun baru yang bisa Anda lakukan di rumah.
Tips Sehat - Nyaman Susi Pudjiastuti Liburan Saat New Normal
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 Susi Pudjiastuti hobi traveling. Dia berbagi tips sehat dan nyaman saat piknik di era new normal.
0
8 Maskapai Penerbangan Indonesia yang Tinggal Nama
Dalam sejarah aviasi Indonesia, tercatat ada beberapa perusahaan yang pernah beroperasi namun berhenti karena berbagai faktor, rata-rata keuangan.