Jakarta, (Tagar 19/1/2019) - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) belum lama ini menangkap Legiman, pengemis di Alun-Alun Simpang Lima Pati,Jawa Tengah, Sabtu, 13 Januari 2019. Saat ditangkap, Legiman mengantongi uang sebesar Rp 659 ribu hasil mengemisnya hari itu.

Belakangan dikeketahui kalau Legiman ternyata mempunyai tabungan di dalam rekening sebuah bank hingga Rp 900 juta. Penelusuran pihak berwajib memperlihatkan Legiman memiliki tanah senilai Rp 275 juta dan rumah yang dibanderol Rp 250 juta. Jika ditotal semua kekayaanya mencapai Rp 1,4 Miliar.

Terkuaknya pengemis makmur bukan kali ini saja terjadi. Deretan pengemis kaya pernah terjaring razia Satpol PP atau Dinas Sosial dari berbagai daerah. Berikut Tagar News rangkumkan 5 pengemis kaya yang terjaring razia.

1. Siswari Sri Wahyuningsih (3 BPKB, sertifikat tanah dan uang Rp 150 juta)
Tahun 2016, Satpol PP Kota Semarang dan Dinsos Jateng mengamankan pengemis perempuan bernama Siswari Sri Wahyuningsih.

Ibu berusia 51 tahun tersebut terjaring disekitaran lampu merah kawasan Jalan Yos Sudarso, Kota Semarang. Fakta mengejutkan tersibak saat petugas menginterogasi Sri dan menemukan sejumlah uang, deposito dan tabungan dengan nominal fantastis.

"Pengemis itu sudah beberapa hari yang lalu ditangkap Satpol PP Kota dan diserahkan ke kami. Setelah saya interogasi dan diperiksa tasnya, ada uang tunai gendelan dan recehan sampai Rp 400 ribu, deposito Rp 140 juta, dan uang tabungan di Bank BNI 46 Sayangan sebesar Rp 16 juta," ujar Ridwan, yang saat itu  menjabat sebagai Kepala Balai Rehabilitasi Sosial (Resos) Among Jiwo.

Gelandangan, Pengemis, GembelIlustrasi tunawisma. (Foto: Pixabay)
2. Epon (uang Rp 43 juta dan emas 100 gram)
Kamis 22 Februari 2018, seorang pengemis bernama Epon (50), terjaring razia satpol PP kota Tasikmalaya. Epon digiring masuk ke dalam mobil dinas setelah sempat meronta-ronta dan menolak diamankan. Dari barang bawaan Epon, petugas mendapati uang tunai sebesar Rp 43 juta dan emas seberat 100 gram.

Video diciduknya Epon sempat viral di media sosial. Dalam video tersebut, dalam bahasa sunda yang kental, Epon menunjukan uang bawaannya sebesar Rp 43 juta. Epon kemudian disuruh membuat surat pernyataan untuk tidak lagi meminta-minta. Oleh petugas, Epon kemudian digiring ke kantor dinas sosial untuk di lakukan pembinaan.

3. Reso & Suwarno (punya rumah dua lantai)
Dua pengemis bernama Reso (63) dan Suwarno (60) terjaring razia ketertiban umum Satpol PP kota Kediri. Lucunya, mereka meminta-minta ke berbagai wilayah dengan menggunakan sebuah sepeda motor matic.

Saat petugas mengantar kedua orang tersebut kembali pulang, fakta mengejutkan lain kembali ditemukan. Pengemis Suwarno yang tinggal di Desa Wonorejo, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri tinggal dirumah berlantai dua dan tergolong mewah.

"Jadi kedua pengemis ini masih memiliki keluarga. Mereka juga punya rumah tempat tinggal yang layak," ungkap Kabid Trantibun Satpol PP Kota Kediri, Nur Khamid, disitat Antara, Selasa (24/10).

"Sewaktu petugas kami datang, Pak RT tidak mengira kalau yang bersangkutan mengemis. Karena kondisi sosial ekonomi di desanya tergolong mampu," sambung Nur Khamid.

PengemisDinsos Jaksel dan Satpol PP menangkap pengemis modus kaki buntung, Ismail (kaos abu-abu dengan jeans). (Foto: Dinsos Jaksel)


4. Arif Komady (punya mobil sedan dan kartu kredit)
Dari Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah seorang pengemis bernama Arif Komady diamankan Satpol PP pada Minggu, 11 Juni 2016 silam.

Memiliki kecacatan fisik, Arif bersama anak dan istrinya hijrah ke Sampit dengan tujuan mengemis. Cacat fisik dijadikan bekal memanen iba dari para dermawan. Tapi ternyata, Arif mengemis bukan karena kelaparan.

Belakangan diketahui kalau Arif ternyata memiliki kartu kredit, kartu ATM dan sebuah kendaraan roda empat berjenis sedan.

Menggunakan mobil sedan miliknya, ia mengunjungi kota-kota besar seperti Kapuas, Palangka Raya, Kasongan, Kereng Pangi dan Sampit untuk mengemis. Dermawan yang melihat kecacatan fisiknya, tentu tidak akan percaya fakta bahwa Arif memiliki dan mampu mengendarai mobil, meski kenyataan berkata lain.