5 Februari, Sejarah Pemberontakan di Kapal Tujuh Provinsi

Pemberontakan di atas kapal angkatan laut Hindia Belanda De Zeven Provincien atau Kapal Tujuh Provinsi terjadi pada 5 Februari 1933.
Ilustrasi Kapal. (Foto:Tagar/Esqnews)

Jakarta - Pemberontakan di atas kapal angkatan laut Hindia Belanda De Zeven Provincien atau Kapal Tujuh Provinsi terjadi pada 5 Februari 1933. Peristiwa yang terjadi di lepas pantai Sumatera itu menjadi puncak pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda.

Pada saat itu, tepatnya 1 Januari 88 tahun silam, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bonifacius Cornelis De Jonge mengumumkan kebijakan pemotongan gaji pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda (tentara dan pegawai negeri) sebesar 17 persen. Hal itu merupakan dampak depresi ekonomi yang melanda dunia, sehingga dengan penurunan gaji tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi defisit anggaran belanja.

Sayangnya kebijakan tersebut mendapat kecaman dan tantangan hebat dari berbagai pihak, baik dari pegawai berkebangsaan Eropa, Indonesia, maupun Eurasia yang ada di pemerintahan Hindia Belanda.

Kendati demikian, peristiwa De Zeven Provincien ini masih menjadi perdebatan dari berbagai kalangan soal penyebab dan tujuan dari pemberontakan itu. Baik dalam opini publik dan sistem politik Hindia Belanda yang berlaku saat itu maupun di antara sejarawan saat ini.

Maksud kami adalah memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan!

Loe de Jong, Ilmuwan Belanda meyakini bahwa peristiwa itu disebabkan adanya penyusupan gerakan komunis di antara awak kapal seperti klaim aktivis nasionalis sayap kanan saat itu. Meski begitu, penemuan ilmuwan tersebut justru menjadikan mitos heroik bagi gerakan komunisme di Belanda dan Hindia Belanda. Namun pendapat lain datang dari sejarawan lainnya, J. C. H. Blom yang menganggap bahwa pemberontakan ini tak pernah direncanakan. Menurutnya pemberontakan itu spontan lantaran protes para awak kapal atas kebijakan pemotongan gaji hingga 17 persen.

Pada 30 Januari 1933, di Surabaya yang merupakan pangkalan utama Angkatan Laut Belanda (Koninlijke Marine, KM) berlangsung unjuk rasa besar-besaran para pelaut Indonesia terhadap pemerintah kolonial, termasuk jajaran komando Angkatan Laut Kerajaan Belanda di sana. Mereka menolak keputusan pemerintah kolonial Hindia Belanda tersebut. Jajaran komando KM sebenarnya sudah memblokir semua pemberitaan unjuk rasa agar tidak menimbulkan kekacauan yang lebih besar.

Namun berita itu dibocorkan melalui radio kepada semua pelaut yang bertugas di luar Surabaya. Dan akhirnya kabar itu pun didengar juga oleh Maud Boshart, pelaut Belanda yang bertugas di atas kapal perang Belanda Hr.Ms De Zeven Provincien yang sedang melakukan patroli di sebelah barat Aceh, pada 30 Januari 1933. Merespon gerakan pemogokan itu, para pelaut di kapal Tujuh Provinsi melakukan rapat. Di antara yang ikut rapat adalah Rumambi, Paraja, Hendrik dan Gosal.

Mengetahui bahwa kabar ini sudah tersiar, komandan kapal memerintahkan para awak kapal berkumpul. “Saya harap jangan sampai kalian meniru contoh yang jelek untuk mengadakan pemogokan juga di kapal ini dengan alasan bahwa kalian tidak dapat menyetujui penurunan gaji,” kata Eikenboom, komandan kapal Hr.Ms. De Zeven Provincien.

Pidato bernada ancaman itu tidak menurunkan semangat perlawanan para awak kapal. Paraja dan Rumambi, dua awak kapal berdarah Indonesia, memimpin sebuah gerakan untuk pemberontakan di atas kapal tujuh itu. Diputuskan pula bahwa mereka akan membawa kapal perang milik Belanda ini ke Surabaya.

Paraja dan Rumambi mendorong sebuah pertemuan di darat. Hadir dalam pertemuan itu, antara lain Gosal, Kawilarang, Kaunang, Posuma, Hendrik, Sudiana, Supusepa, Luhulima, Abas, Tuanakotta, Pelupessy, Delakrus, Suparjan, Achmad, Tuhumena, J Parinusa dan Manuputi. Hadir pula Maud Boshart dan pelaut-pelaut Belanda yang setuju dengan rencana pemberontakan.

Puncak pemberontakan itu terjadi pada 4 Februari 1933, para perwira Belanda berencana menenangkan situasi, hanya saja hal itu malah menjadi blunder. Mereka mengadakan pesta di kantin KNIL di Uleelheue, Aceh, dengan membuang duit sebesar 500 Gulden, dan menyediakan nona-nona Belanda untuk berdansa dengan para pelaut pribumi. Tetapi pelaut Indonesia menolak hadir.

Malam harinya, tiba-tiba seorang letnan yang berpesta di darat memerintahkan Boshart membawanya pulang ke kapal. Ternyata perwira jaga di kapal sudah tewas. M Sapiya dalam bukunya, Pemberontakan Kapal Tujuh, mengisahkan bahwa perwira jaga tersebut dibantai Martin Paradja di tangga kapal.

Kapal sudah dikuasai awak kapal pribumi Hindia yang bersenjata. Meriam sudah terisi, lampu sein dicopot. Martin Paradja dan Gosal memberi perintah. Raut wajah para marinir pribumi yang bersenjata terlihat sangat keras, tulis Moud Boshart. Seorang perwira, Baron De Vos van Steenwijk, yang semula masih mencoba menguasai ruang marconis, kemudian mundur dan meletakkan senjatanya.

Begitulah, pada 4 Februari 1933, sekitar pukul 22.00 malam, peluit panjang berbunyi untuk menandai dimulainya pemberontakan. Ketika itu, kapal sedang berlabuh di Pelabuhan Uleelheue, Banda Aceh. Para awak kapal melakukan pengambil-alihan kendali kapal dari tangan Belanda.

Awak kapal keturunan Indonesia dipimpin oleh Paraja dan Gosal, sedangkan awak kapal Belanda dipimpin oleh Boshart dan Dooyeweerd. Kelasi Paradja bertindak memegang komando, Kelasi Kelas Satu Kawilarang yang punya pengalaman di Eropa berfungsi sebagai navigator. Kelasi Rumambi berada di bagian komunikasi telepon, Hendrik sebagai pengatur bahan bakar, dan Kopral Gosal yang mengurusi bagian kesehatan.

Moud Boshart dalam majalah De Ulienspiegel edisi 3 Februari 1963, sebagaimana dikutip dalam Surat Pembaca nomor 3 Komisi Indonesia CPN: “Saya merasa jenuh, karena semalaman tidak bisa tidur. Keesokan harinya Komandan dengan sia-sia mencoba berunding dan mengambil hati pelaut Indonesia yang sudah mengendalikan sepenuhnya kapal perang Belanda tersebut.”

Dua perwira Belanda yang memimpin kapal, Vels dan Bolhouwer, berhasil meloloskan diri dari pemberontak setelah menjebol jendela. Mereka melompat ke laut dan berenang hingga ke daratan.

Pada tanggal 5 Februari, pimpinan pemberontakan mengeluarkan siaran pers dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia (Melayu), yang memberitahukan bahwa Kapal perang Hr.Ms. De Zeven Provincien sudah diambil-alih oleh mereka dan sedang bergerak ke Surabaya. “Maksud kami adalah memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan!” tulis pemberontak dalam siaran persnya. []

Baca juga:

Berita terkait
10 Manfaat Tersenyum Setiap Hari yang Wajib Kamu Ketahui
Senyum asli atau palsu? berikut 10 Manfaat tersenyum setiap hari yang wajib kamu ketahui.
Tahun 2020 yang Terburuk dalam Sejarah Pariwisata Dunia
Setelah pandemi virus corona (Covid-19) landa dunia sejak awal tahun 2020, pariwisata global alami tahun terburuk yaitu pada tahun 2020
Definisi, Karakteristik, dan Sejarah Cerita Pendek atau Cerpen
Cerita pendek atau disingkat cerpen merupakan salah satu bentuk narasi prosa fiksi yang lebih singkat dan pendek dari novel.
0
Nama Varian Covid-19 Dengan Alfabet Yunani Hindari Stigma
WHO akan ganti penyebutan nama varian Covid-19 untuk hapus stigma negara-negara di mana jenis varian baru virus corona pertama kali dilaporkan