42% Anggota Bisnis Amerika Berencana Keluar dari Hong Kong

Lebih dari 40% anggota sebuah kelompok bisnis terkemuka Amerika Serikat (AS) di Hong Kong mengatakan mereka berencana untuk meninggalkan kota itu
Pusat distrik keuangan di Hong Kong, China, 11 Maret 2021 (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Tyrone Siu)

Jakarta – Lebih dari 40% anggota sebuah kelompok bisnis terkemuka Amerika Serikat (AS) di Hong Kong mengatakan mereka berencana untuk meninggalkan kota itu. Ini menurut sebuah survei yang dirilis Rabu, 12 Mei 2021.

Hasil survei itu mencerminkan kekhawatiran yang meningkat di kalangan pengusaha AS atas undang-undang keamanan nasional Beijing.

China memberlakukan undang-undang keamanan yang luas tahun lalu di Hong Kong untuk meredakan pembangkangan setelah berbulan-bulan protes demokrasi yang besar dan sering kali disertai kekerasan.

Survei Kamar Dagang Amerika (AmCham) –yang dilakukan antara 5 dan 9 Mei 2021– mendapati 42% dari 325 responden mengatakan mereka berencana pindah, dengan mayoritas yang signifikan (62%) menyebut undang-undang keamanan nasional itu sebagai alasan utama.

singapura geser hkIlustrasi: Hong Kong (Foto: dw.com/id)

Alasan-alasan lain yang diungkapkan termasuk langkah-langkah pengendalian pandemi kota itu, daya saingnya di masa depan, biaya hidup yang tinggi, dan kekhawatiran atas kualitas pendidikan mengingat pemerintah menolak perbedaan pendapat.

“Sementara banyak orang suka tinggal di kota yang dinamis ini, mereka juga mengungkapkan adanya ketegangan yang meningkat dan kekhawatiran yang tak kunjung berakhir,” kata Tara Joseph, Presiden AmCham.

“Sebelumnya, saya tidak pernah mencemaskan apa yang saya katakan atau tulis saat saya berada di Hong Kong,” tulis seorang responden dalam sejumlah komentar yang dipublikasikan dalam survei tersebut.

Seorang responden lain menyebutkan peningkatan sentimen antiorang asing di media-media setempat, dan dalam pernyataan-pernyataan pemerintah sebagai alasannya.

Dari mereka yang berencana pindah, tiga persen mengatakan mereka ingin segera pergi, 10 persen mengatakan pada akhir musim panas, 15% pada akhir tahun 2021, dan 48% mengatakan mereka akan pergi dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan.

demo hongkong-UUnjuk rasa warga Hong Kong menuntut pemerintahan yang demokratis tahun 2019 (Foto: dw.com/en)

Survei AmCham serupa Agustus lalu menunjukkan bahwa 39% dari 154 perusahaan yang disurvei memiliki rencana untuk memindahkan kapital, aset, atau operasi ke luar kota itu karena undang-undang keamanan nasional.

Otoritas Hong Kong mengatakan undang-undang keamanan diperlukan untuk mengembalikan stabilitas kota itu setelah aksi protes pada 2019. Mereka juga berpendapat bahwa undang-undang itu justru akan meningkatkan kepercayaan investor.

Sebagian besar dari lebih dari 100 orang yang ditangkap di Hong Kong sejauh ini telah ditahan karena pandangan politik mereka. Pembebasan dengan jaminan biasanya ditolak bagi mereka yang ditangkap, dan mereka yang dinyatakan bersalah menghadapi hukuman penjara seumur hidup (ab/uh)/AFP/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Properti London Jadi Ladang Investasi Warga Asal Hong Kong
Diperkirakan penduduk Hong Kong yang pindah ke Inggris picu pergerakan aliran modal setara Rp 500 triliun di tahun 2021
China Akan Rombak Sistem Pemilihan Umum di Hong Kong
China sepakati rencana patriotik untuk kontrol pemilu di Hong Kong yang praktis akan hapus semua oposisi yang tersisa
0
Puan Maharani: Indonesia Terus Ada Selama Pancasila Ada di Hati Kita
Ketua DPR RI Puan Maharani, mengajak seluruh komponen bangsa menjadikan Pancasila sebagai inspirasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.