UNTUK INDONESIA
4 Mahasiswa Asal Indonesia Bunuh Diri di Australia
Ada baiknya di Kedubes RI dan di Konjen-konjen RI di Australia ada psikolog untuk membantu mahasiswa Indonesia yang menghadapi masalah mental
Mahasiswa internasional di Australia enggan ceritakan masalahnya. (Sumber: ABC News/Flickr: ermadz x)

Sydney - Kuliah di luar negeri, seperti di Australia, tidaklah seindah yang dibayangkan karena banyak masalah yang dihapadi mahasiswa, terutama mahasiswa dari luar Australia yang disebut mahasiswa internasional.

Seperti dilaporkan “ABC News”, 10 September 2019, tujuan untuk menyelesaikan pendidikan atau kuliah dengan sukses jadi tekanan terhadap sebagian mahasiswa internasional. Yang tidak bisa menghadapi tekanan ini dikabarkan memilih jalan pintas yaitu bunuh diri.

Homoseksual

Dilaporkan terjadi 27 kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa internasional di Victoria, Australia. Empat di antaranya adalah mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Sayang, laporan “ABC News” itu tidak merinci asal empat mahasiswa Indonesia itu dan apa pula penyebabnya.

Soalnya, dari hasil studi seperti yang dilaporkan Lembaga Coroners Court di negara bagian Victoria (CPU), penyebab bunuh diri beragam. Ada lima kasus bunuh diri mahasiswa internasional yang mereka temukan ternyata penyebabnya karena mereka tidak bisa membayar uang kuliah. Tapi, ada juga yang tidak bisa bayar uang kuliah karena uangnya habis di meja judi.

Suresh Rajan. Dewan Komunitas Etnis di Australia Barat, dalam 10 tahun terakhir menangani 12 kematian karena bunuh diri di komunitas India di Australia Barat. Menurut Suresh, data dan angka yang kurang tentang kasus bunuh diri jadi tantangan bagi dia untuk melihat apa yang dibutuhkan dari aspek mental untuk mencegah bunu diri, khususnya pada etnis lain.

Soalnya, Suresh menemukan kasus bunuh diri karena cinta, termasuk penolakan cinta pada hubungan sesama jenis di sejumlah budaya mahasiswa dan etnis internasional yang ada di Australia, khususnya Australia Barat.

Lebih rinci Suresh mengatakan kasus bunuh diri karena cinta dan penolakan hubungan sesama jenis tidak hanya dialami mahasiswa asal India,  tapi juga dialami mahasiswa asal Malaysia dan Singapura.

Di Australia mahasiswa internasional, seperti dari India, Malaysia dan Singapura mungkin juga dari Indonesia, bisa terbuka soal orientasi seksual, dalam hal ini hubungan sesama jenis atau homoseksual, tapi mereka tidak bisa menyampaikan hal itu kepada keluarga mereka. Ini salah satu faktor pemicu masalah pribadi yang bisa berakhir dengan bunuh diri.

Ilus2 mhs int aussieMahasiswa internasional di Southern Cross University (Sumber: ABC News/Facebook: SCU International)

Masalahnya, di negaranya ada yang sudah dijodohkan oleh keluarga dan sudah mengatur pernikahan. Tentu saja ini tidak bisa mereka tolak karena berbagai faktor, seperti larangan melawan orang tua, dll. Padahal, orientasi seksual mereka homoseksual sehingga pernikahan atau perkawinan dengan lawan jenis bagi mereka adalah hal yang mustahil. Ini   kekecewaan berat yang bisa jadi pemicu bunuh diri.

Ketika kuliah selesai dan masa belaku visa pelajar mereka habis muncul masalah besar karena selama belajar di Australia tidak ada masalah dengan orientasi seksual mereka. Tapi, sekarang mereka harus pulang ke rumah di negara-negara yang tidak menerima homoseksual. Tidak ada pilihan lain selain harus pulang. Ini juga jadi beban psikologis yang berat yang bisa juga jadi pemicu untuk mengakhiri hidup.

Kampanye Digital

Suresh menceritakan kisah seorang pemuda asal India beragama Sikh. Dia anak pertama dari lima bersaudara semua adiknya perempuan. Dia ke Australia dengan visa pelajar. Untuk membiayai kehidupannya dia jadi sopir taksi. Dia berharap penghasilannya juga bisa dikirim ke kampung untukorang tua dan biaya pernikahan empat saudara perempuannya.

Seperti diceritakan Suresh di bawah tekanan sosial yang dihadapinya, pemuda itu  mengmabil semua uang tabungannya. “Pemuda itu dipantau karena ditakutkan dia akan bunuh diri,” kata Suresh kepada “ABC News”.

Ada mahasiswa internasional yang ‘dikirim’ dan dibiayai oleh warga desa dengan harapan jika mahasiswa itu berhasil bisa membantu warga desa keluar dari kemiskinan. Ini juga jadi tekanan yang tidak bisa dianggap enteng.

Ada pula pasanga muda yang memilih bunuh diri karena mereka ditolak jadi penduduk tetap di Australia. Bagi pemuda Sikh dan pasangan muda ini, "Kalau pulang, mereka akan dinggap sebagai orang yang gagal," kata Suresh.

Studi menunjukkan perbandingan antara mahasiswa internasional dan mahasiswa lokal (Australia) dalam mengakses layanan kesehatan mental. Disebutkan keterlibatan mahasiswa internasional jauh lebih rendah daripada mahasiswa lokal dalam memanfaatkan layanan kesehatan mental.

Padahal, tingkat penyakit mental yang didiagnosis di antara mahasiswa kelahiran Australia justru empat kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan mahasiswa internasional. Tapi, mahasiswa lokal mengakses layanan kesehatan mental, sedangkan mahasiswa internasional tidak mengakses perawatan kesehatan mental diperkirakan karena perbedaan budaya, keterbatasan keuangan dan bahasa.

Sedangkan Janice Ip, seorang peneliti untuk Pusat Kesehatan Holistik, mengatakan karena hambatan budaya mahasiwa sering merasa disalahpahami dan banyak di antara mereka yang justru "merasa lebih buruk setelah bertemu dengan konselor". Kadang-kadang, mereka masih harus menemui beberapa penasihat dan mengulangi cerita mereka hingga berkali-kali. 


Ilus3 mhs int aussieSandersan Onie mengatakan pikiran negatifnya semakin buruk setelah ia pindah ke Australia untuk studi di tahun 2015. (Sumber: ABC News/Koleksi pribadi)

Seorang mahasiswa asal Indonesia, Sandersan Onie, bersama rekannya Benny Prawira meluncurkan situs “What I Wish They Knew” dengan dukungan Yayasan Info The Light bertepatan dengan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang dicangkan Badan Kesehatan Sedunia (WHO) 10 September 2019 . 

Sandersan bertolak dari pengalamannya yang selalu berpikiran negatif. Kondisinya kian parah ketika tahun 2015 dia memutuskan belajar di Australia. "Dalam sebulan saya bisa merasa tidak gembira sama sekali," kata Sandersan mengenang masa suram. Sekarang dia sedang menyelesaikan PhD di bidang psikologi di University of New South Wales (UNSW) di Sydney.

Kampanye digital yang diluncurkan Sandersan dan Benny merupakan langkah untuk mengatasi masalah yang dihadapi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia tanpa harus menyebutkan jati diri. “Tidak ada salahnya bertanya kepada orang-orang yang pernah kepikiran untuk bunuh diri untuk membicarakannya yang justru akan mengurangi risiko,” kata Sandersan.

Pengalaman Sandersan membuktikan dia bisa lolos dari pikiran ingin bunuh diri setelah menemukan orang yang tepat untuk diajak bicara. []

Berita terkait
Dua WN Australia Ditangkap Polisi di Gili Trawangan
Polisi di Lombok Utara mengamankan dua warga negara asing karena diduga memakai narkoba jenis ganja.
Cari Veronica Koman, Polda Jatim ke Konjen Australia
Polda Jatim terus berusaha memulangkan tersangka dugaan penghasutan insiden asrama Papua di Surabaya, Veronica Koman.
33.000 WN Malaysia Minta Suaka di Australia, Ada Apa?
Puluhan ribu WN Malaysia minta suaka sebagai pengungsi di Australia dengan berbagai macam alasan, tapi pemerintah Malaysia justru membantahnya
0
Satpol PP Solo Copot Spanduk Dukungan untuk Gibran
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP Kota Surakarta mencopoti spanduk bertuliskan dukungan terhadap Gibran Rakabuming. Ini penyebabnya