4 Kesalahan Umum yang Biasa Dilakukan Saat Trading Saham

Untuk menjadi seorang trader profesional, Anda harus disiplin dan harus melakukan riset harian.
Ilustrasi. (Foto: Tagar/Freepik)

Jakarta - Membuat kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran dalam hal trading atau investasi. Tapi Anda dapat meminimalisirnya dengan menghindari segala sesuatu yang berisiko menyebabkan kerugian yang besar untuk Anda.

Saat memperdagangkan saham, terkadang Anda akan merasa dorongan secara emosional, terutama dengan keserakahan dan ketakutan, atau menyimpan harapan keuntungan yang sangat tinggi dalam melakukan trading. Nah, artikel kali ini akan membahas tentang 5 kesalahan yang umumnya dilakukan para traders saat melakukan trading saham.


1. Kurang persiapan

Untuk menjadi seorang trader profesional, Anda harus disiplin dan harus melakukan riset harian. Anda harus membuat daftar pantauan Anda dan melacak hal yang sama setiap saat dan mengalokasikan uang Anda di saham yang berbeda untuk meminimalisir risiko kerugian jika terjadi kerugian pada salah satu saham. Awalnya mungkin memang sulit, tapi perlahan-lahan hal tersebut akan menjadi kebiasaan yang mudah Anda lakukan.

Setiap perdagangan perlu disiplin, dipikirkan baik-baik dan tidak impulsif. Sebagai investor, penting untuk melakukan analisis fundamental dan statistik dasar daripada mengikuti pengalaman, emosi, dan naluri Anda. Tindakan seperti itu hanya menunjukkan betapa tidak siapnya Anda untuk melakukan trading.


2. Tidak mengikuti rencana

Tidak ada gunanya memiliki rencana perdagangan jika Anda mengabaikannya. Cara terbaik untuk memastikan Anda mengikuti rencana tersebut adalah dengan meletakkannya di depan Anda saat Anda melakukan trading. Cetak rencana Anda dan simpan di meja kerja Anda atau Anda bisa membuat laporan tiap kali Anda selesai trading, hal ini akan membantu Anda untuk mengevaluasi diri tentang apa yang telah Anda lakukan.


3. Tidak menggunakan stop loss

Untuk memaksimalkan keuntungan Anda dalam perdagangan, Anda juga harus meminimalkan kerugian Anda. Bukan berarti Anda harus menggunakan stop order, tetapi Anda harus tahu kapan harus memotong kerugian Anda. Tidak memiliki rencana kapan Anda harus keluar dari perdagangan akan membuat kerugian yang sangat besar atau bahkan dapat menghilangkan semua aset investasi Anda.


4. Membiarkan emosi mengendalikan Anda

Pasar keuangan adalah perdagangan yang melibatkan emosional trader. Hal itu karena apa yang di perdangangkan secara online adalah uang yang nyata. Terlepas dari pasang surut pendapatan, seorang investor juga harus bertarung dengan pikiran, hati, dan emosional mereka.

Dorongan ketakutan dan keserakahan adalah hal yang mendorong Anda ke arah kesalahan saat melakukan trading. Keserakahan adalah hal yang baik ketika itu memotivasi Anda untuk bekerja keras dan belajar sementara rasa takut adalah hal yang baik ketika itu mencegah Anda melakukan trading yang Anda tahu pasti rugi. Namun, pengambilan keputusan harus dilakukan setelah analisis menyeluruh dan emosi Anda harus selalu berada di bawah kendali kita.

Pertama, belajar melakukan analisis makro fundamental perusahaan, hal tersebut akan membuat tangan dan mata Anda terbiasa dengan pola grafik dan pengetahuan teknis. Belajarlah untuk mengikuti garis tren. Hanya dengan begitu Anda dapat membangun disiplin mengikuti rencana perdagangan Anda dan mengambil keputusan yang tepat. Otak Anda harus mengendalikan perdagangan Anda dan bukan emosi Anda.

(Fauzi Maulana Rizqi)


Baca Juga

Berita terkait
Ingin Belajar Saham? Tenang Aplikasi Trading Bakal Fasilitasi
Saat ini banyak pilihan platform untuk mempelajari saham, salah satunya melalui aplikasi trading saham Stockbit. Nah, begini penjelasannya.
Pengertian Trading dan Hukumnya dalam Islam
Bagaimana dengan pendapat trading saham adalah judi alias haram?
Fantastis! Inilah 5 Trader Forex Terkaya di Dunia
Belum terlambat bagimu jika ingin memulai trading forex dan mengikuti jejak orang-orang di bawah ini.
0
Ini Alasan Mengapa Pemekaran Provinsi Papua Harus Dilakukan
Mantan Kapolri ini menyebut pemekaran wilayah sebenarnya bukan hal baru di Indonesia.