UNTUK INDONESIA
4 Investasi Menguntungkan Meski Ada Virus Corona
Penyebaran virus corona di berbagai belahan dunia kini membawa dampak signifikan pada aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, ada 4 investasi bagus.
Ilustrasi investasi. (Foto: pixabay.com/mohamed_hassan)

Jakarta - Penyebaran virus corona di berbagai belahan dunia kini membawa dampak signifikan pada aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak sektor usaha yang ikut terpukul akibat menyebarnya virus jenis COVID-19 itu. Beberapa lini bisnis yang tengah mengalami perlambatan antara lain sektor pariwisata dan penerbangan.

Di tengah ketidakpastian yang berlanjut, ada baiknya menyisihkan sebagian kemampuan finansial yang dimiliki untuk melakukan aktivitas investasi. 

Sejatinya, investasi tidak melulu soal urusan ekspansi. Investasi dapat juga berupa kegiatan mengumpulkan harta maupun kekayaan dalam bentuk tabungan.

Terlebih dengan ancaman resesi sejak awal tahun, investasi dapat menjadi cara terbaik untuk menangkal efek negatif virus corona bagi kesehatan ekonomi.

Lalu, investasi apa yang dirasa aman di tengah terpaan badai COVID-19? Berikut Tagar informasikan sejumlah investasi menguntungkan pasca-serangan virus corona.

1. Emas

PT Aneka TambangEmas produksi PT Aneka Tambang (Foto: Antam.com)

Tidak dapat dipungkiri, emas merupakan instrumen investasi yang paling jamak dibandingkan dengan instrumen lainnya. Emas juga dipercaya sebagai alat menimbun kekayaan tradisional sejak ribuan tahun silam.

Sifatnya yang mudah diperjualbelikan membuat emas menjadi instrumen investasi yang tergolong sangat likuid. Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam mengoleksi emas adalah kalkulasi tepat saat ingin menjual kembali.

Maksudnya adalah membeli saat harga sedang turun dan memproyeksi kapan waktu yang tepat untuk melepas emas di kala sedang bernilai tinggi. Ingat, sebagai instrumen investasi emas juga memiliki sifat fluktuasi harga jual dan beli.

Usahakan mengoleksi emas dalam ukuran lebih kecil, misalnya dalam besaran satu hingga sepuluh gram. Tujuannya, untuk memudahkan penjualan emas secara efektif. Mengingat, cukup jarang masyarakat atau instansi tertentu yang mau membeli emas dengan nilai gram besar dalam satu item, semisal 100 gram.

Baca juga:  Investasi Bodong Usaha Sapi Perah Hantui Warga Papua

Akan tetapi, pengumpulan emas secara eceran membawa konsekuensi tersendiri, yakni membuat harga beli lebih mahal. Hal berbeda akan ditemui saat mengoleksi emas dalam bentuk batangan.

Pemahaman paling mudah dalam berinvestasi emas adalah harga akan tinggi saat sektor perekonomian sedang terguncang. Ini terjadi karena banyak masyarakat yang kembali ke cara-cara konvensional dalam menabung.

Emas adalah salah satu favorit yang dipilih. Permintaan yang tinggi membuat harga jual akan naik. Saat inilah waktu tepat untuk melepas emas.

Indikator sederhana lain yang bisa menjadi acuan dalam menjual emas adalah ketika harga berbagai komoditas utama dunia seperti minyak bumi dan batubara sedang anjlok. 

Semakin stabil sebuah berekonomian, maka semakin murah harga emas yang ditawarkan. Momentum seperti ini menjadi saat yang tepat untuk mengoleksi emas.

2. Valuta Asing (Valas)

Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS

Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, (Foto: Ant/Puspa Perwitasari)

Tidak bisa dipungkiri, kekuatan ekonomi akan berbanding lurus dengan kemampuan nilai tukar sebuah negara. Semakin tertekan kondisi perekonomian, maka akan semakin lemah juga nilai mata uang yang dimiliki.

Jika kondisi ini terjadi, maka tidak ada salahnya untuk mulai mengumpulkan mata uang asing, khususnya dolas Amerika Serikat (AS) yang selama ini dijadikan acuan banyak pihak. 

Perbedaan antara nilai jual dan beli dapat menjadi alternatif tersendiri dalam mengumpulkan cuan.

Fluktuasi valuta asing akan semakin membesar saat situasi perekonomian semakin tidak menentu. Kondisi demikian biasanya sering digunakan masyarakat untuk melepas dolar guna mengambil keuntungan. 

Nilai valas sendiri akan kembali ke level normal seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berjalan.

3. Reksadana

Jika dirasa memiliki kemampuan finansial lebih, tidak ada salahnya menempatkan sejumlah besar uang pada reksadana tertentu. 

Fasilitas pengelolaan dana yang diberikan oleh manajer investasi dapat menjadi alternatif tersendiri dalam mengelola kekayaan.

Selain itu, investor yang ingin membenamkan modalnya tidak perlu pusing-pusing untuk mengikuti seluruh dinamika yang terjadi di pasar karena sudah terlebih dahulu dikalkulasikan oleh manajer investasi. 

Baca juga: Masih Ada Pungli Izin Investasi, Bos BKPM: Laporkan

Sifatnya yang tergolong memberikan keuntungan stabil dalam periode tertentu, menjadikan reksadana banyak diburu masyarakat.

Akan tetapi, yang perlu menjadi catatan adalah pastikan kapabilitas manajer investasi cukup baik dan kredibel. Langkah ini berguna untuk menghindari penurunan nilai investasi di kemudian hari.

4. Saham

IHSGPengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 4 Februari 2020. (Foto: Antara/Reno Esnir/hp)

Satu hal yang perlu dipahami betul dalam investasi saham adalah high risk high return. Instrumen investasi jenis ini memang banyak menawarkan keuntungan berlipat ganda. 

Meski demikian, saham juga membawa risiko kegagalan yang tergolong besar apabila tidak berhati-hati dalam menempatkan dana.

Umumnya, saham menjadi acuan pertama yang bisa menggambarkan kondisi nyata perekonomian di sebuah wilayah atau negara. Harga saham akan jatuh saat mulai terjadi krisis ekonomi. Sebaliknya, harga akan kembali menguat saat terjadi tanda-tanda pemulihan.

Kondisi krisis sering kali digunakan para investor untuk memborong sejumlah saham yang dinilai cukup valueable, karena nilai yang murah. Saham-saham ini nantinya akan dilepas kembali saat harga mulai tinggi seiring dengan perbaikan ekonomi.

Namun, perlu dianaliasa betul apakah banderol yang ditawarkan itu terbentuk oleh mekanisme pasar yang wajar atau permainan segelintir spekulan saja. 

Bagaimana pun, beberapa saham yang memiki fundamental baik tergolong memiliki range harga yang tidak terpaut jauh. Usahakan untuk mengoleksi saham yang masuk dalam kategori saham-saham pilihan berkinerja baik. []

Berita terkait
Garap Investasi Hijau, Bakal Ada Strarbucks di Papua
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan perusahaan kopi asal Amerika Serikat (AS) Starbucks mulai menggarap investasi hijau di Papua.
Kampus UNS Solo Dicatut Investasi Bodong di Sleman
Pelaku investasi bodong mencatut UNS dengan iming-iming menggiurkan. Korbannya adalah teman pelaku, sudah setor Rp 50 juta via transfer e-banking.
Gubernur Sebut Permudah Izin Investasi di Banten
Gubernur Banten, Wahidin Halim (WH), menegaskan akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan layanan kemudahan berinvestasi di Banten
0
Warga Bantaeng Derita Luka Bakar di Sekujur Tubuh
Remaja berusia 20 tahun di Bantaeng menderita luka bakar hampir 80 persen akibat kebakaran menimpa kamar tidurnya.