Untuk Indonesia
25 Caleg Lolos ke DPRD Kabupaten Barru
Sebanyak 25 nama berpeluang duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Berikut nama-namanya
Sebanyak 25 nama berpeluang duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Barru - Sebanyak 25 nama berpeluang duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan periode 2019-2024.

Hasil perolehan suara untuk DPRD Barru, peraih kursi terbanyak yakni NasDem, Golkar dan PKB. Dari 25 kursi DPRD Barru yang tersedia, ketiganya masing-masing berhasil merebut lima kursi di lima Dapil.

Dengan perolehan kursi yang sama itu, NasDem keluar sebagai jawara dengan mengumpulkan suara sebanyak 21.962, disusul oleh Golkar dengan perolehan suara partai 17.118, lalu PKB mengoleksi 12.461 suara.

Dengan raihan suara itu, bisa dipastikan NasDem berhak duduk sebagai ketua DPRD Kabupaten Barru, sementara kursi Wakil Ketua I direbut Golkar dan Wakil Ketua II jatah PKB.

Berikut ini perolehan suara 25 Caleg terpilih di DPRD Kabupaten Barru:

Dapil I Kecamatan Barru:

H Kamil (Golkar): 1.771
Mursalim Abdullah (Nasdem): 1.265
Rusdi (PKB): 1.713
A Wawo Mannojengi (PPP): 1.739
Rifai Muin (PDIP): 1.384
Iqbal (Gerindra): 1.154

Dapil II Kecamatan Balusu dan Soppeng Riaja:

Syahrul Ramdani (Nasdem): 1.762
H Muhammad Akil (PKS): 1.179
Syamsu Rijal (PDIP): 1.282
AFK Madjid (PKB): 794
Muh Erdy (Golkar): 1.069

Dapil III Kecamatan Mallusettasi:

H Rusdi Cara (Golkar): 1.439
A Yenny (Nasdem): 1.141
Susanti Gerindra): 1.235
Andi Akram Fieter (PKB): 1.543

Dapil IV Tanete Riaja dan Pujananting:

Lukman (NasDem): 1.791
Sri Wulandari (PKB): 1.121
Sulaeman (PDIP): 1.068
Hacing (Golkar): 922
Hj Hamsiati (PKS): 1.140

Dapil V Tanete Rilau

H Jamaluddin Ismail (Nasdem): 2.191
Syamsuddin (Golkar): 1.800
Hj Asmirah (PKB): 1.459
Syahrullah (Demokrat): 1.086
Alifandi Aska (Gerindra): 1.443

Baca juga:

Berita terkait
0
Kaum Ibu Buka Baju di Tobasa, Ini Kata Saut Sirait
Pandangan kritis disampaikan oleh Saut Sirait, seorang pendeta HKBP yang juga dikenal luas sebagai pegiat demokrasi.