UNTUK INDONESIA
180 Ha Lahan di Tapanuli Utara Menanti Hadirnya Irigasi
Aliran debit air Sibudingding selama berpuluh tahun belum dikelola dengan optimal dengan irigasi teknis.
Tanaman cabai merah milik petani Dusun Sibuntuon di lahan 180 hektare yang minim irigasi teknis. Tanaman tumbuh subur dengan kerumunan daun serta buah yang mulai memerah, Senin 9 September 2019. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang)

Sipoholon - Sore itu, jelang mentari ditelan bumi di ufuk barat, warga Dusun Sibuntuon nampak semangat dan riang menyambut hadirnya Kepala Dinas Pertanian Tapanuli Utara, SEY Pasaribu.

Dia turun menyisir jalan berbukit menuju sumber air Sibudingding, Rabu 12 September 2019. Sumber air Sibudingding dikenal salah satu anak sungai DAS Batangtoru, berada persis di kaki bukit hutan reboisasi tahun 1976 dengan jenis pohon pinus dari Departemen Kehutanan, 43 tahun silam.

Aliran debit air Sibudingding selama berpuluh tahun belum dikelola dengan optimal dengan irigasi teknis. Padahal lahan di hilir mata air tersebut sangat membutuhkan.

Kehadiran Dinas Pertanian di tempat itu untuk mengakomodir keluhan petani di dua dusun, Sibuntuon dan Lumbangaol, Desa Simanungkalit, Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Di sana ada potensi lahan sekitar 180 hektare.

Rapma Simanungkalit, 57 tahun; History Hutabarat, 47 tahun; Halomoan Simanjuntak, 43 tahun; Toba Pangaribuan, 46 tahun; Sappe Hutabarat, 45 tahun; dan Pinto Simanjuntak, 32 tahun, terlihat serius menjelaskan topografi lahan kepada Pasaribu.

Ke enam pria itu adalah warga Dusun Sibuntuon, bergabung dalam Kelompok Tani Rogate di Desa Simanungkalit, Sipoholon.

Dari perbincangan dua pihak, terangkum kesimpulan, bahwa di titik kaki bukit hutan reboisasi pohon pinus akan diupayakan pembangunan intake saluran irigasi pengairan lahan dua dusun.

Hal itu pun dibenarkan SEY Pasaribu saat bincang dengan Tagar. "Mengapa begitu lama informasi potensi ini terekspos ya. Lahan seluas ini cocok penerapan Indeks Pertanaman Dua Kali (IP2) yang diprogramkan pemerintah pusat," kata Pasaribu, Rabu 12 September 2019.

Pasaribu mengatakan, berdasarkan hasil survei pihaknya, di lokasi tersebut diprioritaskan pembangunan saluran irigasi tahun 2020.

"Karena luasan yang sangat memadai berikut dukungan sumber air dari lokasi ini, nota dinas ke Dinas PUPR segera kita lengkapi. Dan sekitar Oktober depan tim konsultan kita turunkan ke lokasi ini," kata Pasaribu di hadapan warga.

Rapma Simanungkalit dari Kelompok Tani Rogate yang juga menjabat anggota BPD Simanungkalit menginformasikan, usulan pembangunan titik lokasi sebenarnya telah tercatat dalam rencana pembangunan jangka menegah desa (RPMJDesa).

"Sebenarnya dalam musrenbang desa secara berulang kali telah dibahas dan otomatis telah tercatat," katanya.

Dia berharap kelancaran program itu dapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Pemprov Sumatera Utara, kementerian dan lembaga lain.

"Demi mewujudkan swasembada pangan di daerah ini, sepatutnya ini sudah jadi prioritas," katanya.

Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan melalui telepon seluler membenarkan hadirnya SEY Pasaribu atas perintahnya.

"Saya yang perintahkan dia (SEY Pasaribu) ke sana. Biar dia lihat dan cek langsung dan melakukan eksaminasi lanjutan," tulis Nikson lewat pesan elektrinik menanggapi Tagar, Kamis 13 September.

Dari penyisiran sejak Senin 9 September 2019 di lokasi 180 hektare, sebagian petani dipaksa bertanam padi tadah hujan. Bahkan sebagian lahan sawah sudah dialihfungsikan menjadi kebun tanaman keras karena minimnya irigasi.

Lahan bertekstur landai dari kaki bukit hutan reboisasi pohon pinus itu menuju perkampungan dihuni sekira 300 kepala keluarga, menurut warga adalah lahan andalan mereka sejak dahulu kala.

Lahan itu sebenarnya sangat subur berbudidaya tanaman padi dan holtikultura lain. Terlihat dari jenis tanah gambut berpasir berwarna cokelat kehitam-hitaman.

Fakta itu terlihat dari suburnya lahan yang sedang dikebuni tanaman cabai merah. Nampak tinggi semampai dengan rimbunya daun dan buah cabai yang mulai memerah.

Jika dibangun irigasi tentu mendukung pelaksanàan pola indeks pertanaman dua kali. Selain itu lahan ini bisa pengembangan ternak ikan tawar

55 Tahun Belum Tersentuh Pembangunan

Kepada Tagar sebelumnya, warga petani di daerah itu meminta perhatian pemerintah agar lahan pertanian mereka dibangun fasilitas irigasi dan jalan pertanian.

Kadis pertanian taputWarga dampingi jajaran Dinas Pertanian Tapanuli Utara meninjau sumber air Sibudingding, Rabu 12 September 2019. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang)

Ada lahan seluas kurang lebih 180 hektare di dua dusun, Sibuntuon dan Lumbangaol terkesan luput dari pembangunan selama puluhan tahun.

"Saya sudah 55 tahun, dari lahir sampai usia uzur saya, lahan sawah ini belum pernah dibangun irigasi dari anggaran pemerintah," kata Humot Simanungkalit, seorang warga ditemui di areal persawahan Aek Sibudingding, Senin 9 September 2019.

Dia meminta bupati bersama DPRD daerah itu, bersedia mengunjungi lahan subur milik mereka.

"Tu amang bupati nami nang songoni DPRD naung hupillit hami asa ro nian marnida hauma nami on (Kepada Bapak Bupati dan DPRD Tapanuli Utara yang kami pilih, hendaknya mau datang melihat langsung lahan kami ini)," terang Humot, dalam dialek Batak Toba.

Selama puluhan tahun juga petani melewati jalan sempit dan bersemak, menggotong bergoni-goni pupuk dan gabah padi saat panen.

Petani lain marga Siregar dengan nada yang sama menyebut, bila kelak permintaan pembangunan irigasi terlaksana, mereka yakin bisa menambah kesejahteraan para petani.

"Jika dibangun irigasi tentu mendukung pelaksanàan pola indeks pertanaman dua kali. Selain itu lahan ini bisa pengembangan ternak ikan tawar," kata Hidden Sihombing, 57 tahun, petani warga Dusun Lumbangaol.

Suara anak rantau dari dusun itu pun berharap titik lokasi air Sibudingding dimanfaatkan buat kesejahteraan warga di sana.

Bommen Hutagalung, anak rantau Dusun Sibuntuon yang kini berdiam di Batam, meminta dan bermohon perhatian Pemkab Tapanuli Utara dan pemerintah pusat.

"Sebagai salah satu kader di PDIP, saya berharap Bupati Nikson Nababan, bisa mengakomodir keluhan petani. Demikian juga untuk pemerintah pusat agar bisa merencanakan irigasi teknis di lahan tergolong subur itu," kata Bommen, yang juga anggota DPRD Batam periode 2014-2019 dari Fraksi PDIP, dihubungi melalui ponsel pada Senin 9 September 2019.

Jalan Tikus

Pantauan Tagar, selain belum difasilitasi irigasi teknis seperti keinginan petani, sepanjang jalan menuju ke persawahan warga di dusun itu, terlihat jalan setapak mirip jalan tikus.

Diperkirakan jalan sepanjang dua kilometer dengan kondisi berlumpur dan bersemak terpantau dipakai petani memobilisasi pupuk dan hasil panen.

Dipastikan tantangan berat melewati jalan tikus oleh petani, turut mempengaruhi turunnya produktivitas petani daerah itu.

"Selama puluhan tahun juga kami petani melewati jalan ini, menggotong bergoni-goni pupuk dan gabah padi saat panen," terang petani marga Siregar yang menolak difoto saat melintas di jalan persawahan sembari meminta agar akses jalan pertanian ditingkatkan.

Untuk diketahui, beberapa bulan silam, lahan ini sudah ditinjau jajaran Dinas PUPR Tapanuli Utara. Saat itu, pimpinan OPD Ir Anggiat Rajagukguk bersama beberapa staf melihat lahan tanpa irigasi tersebut.

Apresiasi Respons Pemkab

Perbincangan Tagar dengan SEY Pasaribu, pada Oktober 2019 nanti, sudah turun konsultan perencana dan hasil survei akan ditangani instansi teknis membidangi pengairan.

Humot SimanungkalitHumot Simanungkalit, 55 tahun, warga tani Dusun Sibuntuon, Desa Simanungkalit di lahan miliknya. (Foto: Tagar/Jumpa P Manullang)

Konsep pembangunan diupayakan bisa mengakomodir irigasi teknis dari hulu hingga hilir lahan persawahan itu.

"Sebelum tahun 2020, berkas lampiran permohonan sudah harus kelar. Surat pernyataan dari pemilik lahan tidak keberatan sangat kita butuhkan," kata Pasaribu.

Mark Situmeang, 35 tahun, petani dari Dusun Lumbangaol juga termasuk salah seorang pemilik lahan persawahan persis di bawah kaki bukit hutan reboisasi tanaman pinus. Dia menyatakan dukungan rencana pembangunan jaringan irigasi di tempat itu.

Mark mengatakan, siap membuat pernyataan tidak keberatan jika lahan miliknya terimbas jalur pembangunan irigasi yang sudah lama diidam-idamkan.

"Demi kemanfaatan sepuluh dua puluh tahun ke depan, tentunya kami pemilik lahan di sepanjang jalur rencana pembangunan jaringan harus mendukung program pemeruntah itu," ungkapnya.

Diakui selama ini, efek minimnya layanan distribusi pengairan selama puluhan tahun di tempat itu, memaksa sebagian lahan mereka beralih fungsi bahkan ditelantarkan.

"Lahan tandus akibat kekeringan pada musim tanam selama ini. Kami sangat yakin, jika bangunan irigasi terbangun dengan ketersediaan air yang memadai akan membangkitkan gairah baru aplikasi dua kali pertanaman," kata Situmeang.

Mian Sihombing, 69 tahun, mengungkap, karena keterbatasan sistem pengaturan air di lahan tersebut selama puluhan tahun, sangat mempengaruhi hasil produk gabah akibat banjir saat penghujan.

"Tiap musim penghujan jadi langganan banjir menggerus tanaman. Dan kala musim kemarau terkendala kelembaban tanah. Tentu mengurangi hasil panen gebah," katanya.

Dari lahan miliknya saat ini hanya bisa memanen separuh hasil gabah akibat dampak banjir tiap tahun.

"Imbas banjir dadakan tiap tahun, pertanaman terganggu. Dan tanah kiriman akibat gerusan dari hulu selalu merusak tanaman kami," kata Mian.

Padahal lahan di daerah itu, kata Mian, sangat subur dan diperkirakan mampu sebagai lahan rujukan penerapan indeks pertanaman dua kali untuk tanaman Padi.

"Semoga rencana itu direalisasi untuk mendukung program pemerintah seperti swasembada pangan jenis padi dari daerah ini," katanya. []

Berita terkait
Mantan Kapolres Tapanuli Utara Dilantik Jadi DPRD Sumut
Sebanyak 100 anggota DPRD Sumatera Utara periode 2019-2024 dilantik pada Senin 16 September 2019.
Panen Durian Pahae Tapanuli Utara Anjlok
Dalam 10 tahun terakhir, hasil panen kebun durian di empat kecamatan di Luat Pahae mengalami penurunan drastis.
Caleg Terpilih Tapanuli Meninggal Sebelum Dilantik
Saut Monang Hara Simorangkir Caleg terpilih dari Dapil Tapanuli Utara III dikabarkan meninggal dunia sebelum dilantik jadi anggota dewan.
0
Alasan Driver Ojol Aksi Mogok Makan di Yogyakarta
Sejumlah driver ojek online (ojol) dari Go Car dan Grab Car menggelar aksi mogok makan sejak Selasa, 22 Oktober 2019.