UNTUK INDONESIA
15 Daerah di Jatim Nyatakan Kekeringan Status Siaga
Sebanyak 15 kabupaten kota di Jawa Timur menyatakan status siaga kekeringan.
Kepala BPBD Jatim, Suban Wahyudiono. (Foto: Tagar/Adi Suprayitno)

Surabaya - Sebanyak 15 kabupaten kota di Jawa Timur (Jatim) menyatakan status siaga kekeringan. Mengingat di daerah tersebut pencarian air sulit didapatkan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mencatat daerah yang menyangkut status siaga adalah Magetan, Tulungagung, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Mojokerto, Nganjuk, Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Bondowoso. Sementara di Madura empat kabupaten semuanya menyatakan siaga darurat kekeringan.

"15 kabupaten kota di Jatim menyatakan status siaga kekeringan," kata Kepala BPBD Jatim, Suban Wahyudiono, di Surabaya, Jumat 26 Juli 2019.

Suban mengaku sesuai prakiraan dari BMKG, kekeringan berkepanjangan dimulai awal Juni hingga Agustus mendatang. Akibatnya 28 kabupaten dari 38 kabupaten kota di Jatim kekeringan. Dari jumlah itu 24 kabupaten mengalami kering kritis. Sementara empat daerah kering langka. "Dari 24 daerah, 15 kabupaten kota sudah status siaga," paparnya.

Daerah yang berpotensi kering kritis, jarak airnya lebih dari 3 Km, terletak di 566 desa di 180 kecamatan.

Penanganan kekeringan maupun bencana lain di Jatim tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD

Sampang adalah salah satu kabupaten yang kering kritis dengan 67 desa. Seperti halnya di Kecamatan Karang Penang, Sampang, di desa Bulmatet. Di desa itu ada 3.044 KK, 30 ribu jiwa. Mayoritas warga tinggal di dataran tinggi sehingga jarak sumber air terdekat enam sampai tujuh kilometer. Sedangkan Kabupaten Tuban sebanyak 55 desa.

Sementara kabupaten lainnya yang jumlah desanya cukup banyak mengalami kering kritis adalah Kabupaten Pacitan, Ngawi, dan Lamongan.

Dia juga mencontohkan warga di Desa Bira, Kecamatan Sokobanah, Sampang. Warga harus mengambil air ke dekat pantai padahal lokasi desanya cukup jauh.

Pemerintah Kabupaten Sampang baru mengajukan permintaan pengiriman (dropping) air bersih pada 22 Juli kemarin.

"Penanganan kekeringan maupun bencana lain di Jatim tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD karena butuh peran berbagai pihak. Sejumlah perusahaan di beberapa daerah memberikan CSR-nya untuk pengadaan air bersih," katanya. []

Baca juga:


Berita terkait
0
ESDM Sebut Eksplorasi Tambang di Jatim Masih Minim
Eksplorasi tambang di Jawa Timur masih minim baru sekitar 15-20 persen, padahal masih banyak potnsi yang bisa digarap.