UNTUK INDONESIA
1 Miliar Penduduk Dunia Menderita Migrain
Migrain tidak sekedar sakit kepala karena Singapura merasakan dampaknya dengan kerugian Rp 10,6 triliun, Indonesia perlu juga survei migrain
Ilustrasi. (Foto: Mirror)

Jakarta - Migrain adalah sakit kepala yang disertai rasa nyeri berdenyut pada satu sisi atau nyeri kepala sebelah. Migrain adalah penyakit neurologis yang sangat lazim. 

Migrain diderita oleh 39 juta pria, wanita dan anak-anak di AS, sedangkan di dunia 1 miliar penduduk menderita migrain. Migrain adalah penyakit ke-3 terbanyak di dunia.

Penyakit Ke-6 Paling Melumpuhkan

Biar pun ‘hanya’ sakit kepala sebelah, tapi migrain berdampak besar. Seperti yang dialami oleh Singapura ternyata sebuah studi menunjukkan kerugian terjadi karena 80 persen produktivitas kerja yang hilang dan 20 persen karena biaya perawatan kesehatan.

Banyak orang menganggap migrain sepele karena ada di antara mereka yang merasa sembuh dengan minum obat yang dibeli obat sakit kepala di warung. Migrain berawal dari beberapa gejala, seperti sembelit, cepat marah dan gangguan visual yang bermuara pada sakit kepala.

Hampir 1 dari 4 rumah tangga di AS dengan seorang penderita migrain, 12% dari populasi -termasuk anak-anak- menderita migrain. Di AS migrain diderita oleh 18% wanita, 6% pria, dan 10% anak-anak. Migrain paling umum terjadi pada usia 18 - 44 tahun.

Migrain cenderung berjalan dalam keluarga. Sekitar 90% penderita migrain memiliki riwayat keluarga dengan migrain.

Hasil survei menunjukkan penderita sakit kepala yang kronis rata-rata kehilangan 9,8 hari kerja setiap tahun. Bagi yang bisa mengatasi migrain dan tetap bekerja dalam kondisi sakit di bawah pengaruh migrain menyebabkan kemampuan menyelesaikan pekerjaan berkurang. Kondisi ini menyebabkan produktivitas kerja hilang 7,4 hari dalam satu tahun.

Kebanyakan orang tidak menyadari betapa serius dan buruknya migrain. Migrain adalah penyakit ke-6 yang paling melumpuhkan di dunia. Setiap 10 detik seorang warga di AS pergi ke gawat darurat dengan keluhan sakit kepala. Sekitar 1,2 juta kunjungan ke rumah sakit dengan keluhan serangan migrain akut. Lebih dari 90% penderita migrain tidak bisa bekerja atau berfungsi secara normal.

Gejala migrain, seperti sembelit dan gangguan visual berlangsung anara empat sampai 72 jam. Sebagian besar kelompok para rentang usia 30 – 40 tahun akan terpengaruh karena migrain. Disebutkan gejala migrain lebih sering terjadi pada perempuan dewasa daripada laki-laki dewasa karena pada perempuan dipengaruhi oleh perubahan hormon.

Survei di Singapura menunjukkan lebih dari 600 pekerja penuh waktu menderita migrain. Mereka mengikuti survei onlien untuk keperluan penelitian “Beban Ekonomi Akibat Migrain Di Singapura” yang dijalankan oleh Duke-NUS Medical School dan perusahaan farmasi Novartis.

Efek Jangka Panjang

Responden yang mengikuti survei rata-rata berusia 38 tahun. Kebanyakan etnis Cina. Status menikah. Berpendidikan tinggi. Sebagian besar responden ada di posisi manajerial (60 persen), sisanya di administrasi. Tingkat keterampilan menengah dan wiraswasta.

Survei dilakukan tahun 2018. Peneliti menemukan responden mengalami migrain 14 hari setiap bulan. Ini menyebabkan kerugian 14.860 dolar Singapura atau setara dengan Rp 151 juta per kapita/tahun. Sedangkan responden yang menderita migrain tiga hari atau lebih sedikit setiap bulan, menyebabkan kerugian sebesar 5.040 dolar Singapura (Rp 51,4 juta) per kapita/tahun.

Salah satu faktor pemicu migrain pada warga Singapura diperkirakan karena jam kerja yang panjang dan tinggat stres yang tinggi. Dr Jonathan Ong, National University Hospital (NUH) Singapura, mengatakan setiap bulan sekitar 100 pasien baru datang ke klinik di beberapa rumah sakit dan RSU Ng Teng Fong dengan keluhan gangguan sakit kepala. Jumlah ini meningkat sekitar 10 persen setiap tahun.

Dr Ong mengatakan kondisi warga yang sakit migrain tidak mengherankan karena pola hidup dalam lingkungan yang semakin penuh tekanan. “Beberapa negara di Asia sangat berorientasi pada pekerjaan, berorientasi pada tujuan, menghabiskan waktu berjam-jam di tempat kerja, dan stres adalah pemicu utama migrain," katanya.

Secara medis migrain sering berhubungan dengan depresi dan kecemasan, penyakit kardiovaskular, peradangan hidung atau sinus. Namun penyakit ini juga dapat dipicu oleh lingkungan, emosi dan makanan. Menurut Dr Ong yang mengkhawatirkan adalah penelitian menemukan satu dari empat pasien migrain di Singapura tidak berusaha mencari perawatan medis. Dr Ong juga konsultan di Divisi Neurologi NUH dan presiden Headache Society of Singapore.

Sedangkan Dr Eric Finkelstein, Duke-NUS Medical School, mengatakan migrain memiliki efek jangka panjang yang merugikan pekerjaan, seperti mempengaruhi perkembangan karir seseorang dan kehidupan pribadi mereka. Migrain menghabiskan dana kesehatan sebesar 41 persen. Bandingkan dengan obat-obatan alternatif 18 persen, konsultasi 16 persen, rawat inap 13 persen dan obat-obatan 11 persen.

Para peneliti berharap agar hasil riset ini meningkatkan kesadaran tentang migrain, sehingga lebih banyak orang dapat didiagnosis dengan benar dan tempat mereka bekerja akan lebih memahami para penderita.

Sedangkan penelitian tentang penyebab dan pengobatan migrain yang dijalankan oleh Migraine Research Foundation sangat kekurangan dana. (Sumber: Strait Times, dw.com, migraineresearchfoundation.org dan sumber-sumber lain). [] 

Berita terkait
Begini Mencegah Sakit Kepala Saat Puasa
Tubuh tidak mendapat asupan makan dan minum selama 12 jam saat puasa. Dampaknya pada kesehatan. Satu di antaranya sakit kepala.
Sakit Kepala, Hindari Makanan dan Minuman Ini
Bisa saja menjadi memicu sakit kepala lebih parah lagi.
Yang Anda Perlu Tahu tentang Sakit Kepala Hormonal
Berikut ini hal-hal yang Anda perlu tahu tentang sakit kepala hormonal dan cara menanganinya.
0
Jokowi Berbagi Tips Cegah Penularan Virus Corona
Kehadiran Covid-19 atau virus corona belakangan ini membuat risau masyarakat. Untuk itu Presiden Jokowi perlu membagikan tips cegah penularan.