Surabaya, (Tagar 12/4/2018) - Dalam era dunia digital saat ini, banyak bermunculan berbagai jenis game game. Namun, ditangan tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)  game tidak hanya sekedar sebuah permainan. Mereka pun menciptakan game yang mampu mengedukasi.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Ilham Cahya Suherman dari Departemen Sistem Informasi, Firman Maulana dari Departemen Teknik Informatika, dan Diah Rachmawati dari Desain Komunikasi Visual (DKV) yang berada di bawah Departemen Desain Produk Industri (Despro). Mereka menciptakan sebuah game bernama Words War. Game ini mengusung teknologi speech recognizition (SR) sebagai solusinya.    

Terkait dengan game tersebut, Ilham memaparkan bahwa SR adalah teknologi yang digunakan untuk mengonversikan sinyal akustik (suara) melalui mikrofon, sebagai bentuk perintah dalam mengoperasikan komputer secara otomatis.

Tiga mahasiswa ITS saat melakukan simulasi game words war.Tiga mahasiswa ITS saat melakukan simulasi game words war. (lut)
"Jadi, pemain hanya perlu bermodal suara atau ucapan untuk mengendalikan atau menjalankan game tersebut dan SR ini hanya mampu dijalankan di Windows 10," kata mahasiswa angkatan 2015 ini.

Ilham yang didapuk sebagai ketua tim ini mengatakan, game ini bergenre shooter. Dengan genre ini pemain akan mengalahkan lawan melalui tembak-menembak. Tokoh penembak disimulasikan oleh kucing dengan pesawatnya dan pelaku yang ditembak disimulasikan oleh para monster.

Teknisnya, lanjut Ilham, pada area batas yang dimiliki kucing terdapat posisi atas, tengah, dan bawah. Setiap dari ketiga posisi tersebut terdapat kata atau kalimat bahasa Inggris. Jika kucing ingin berpindah posisi, maka pemain harus mengucapkan kata atau kalimat bahasa Inggris di posisi tersebut.

"Dalam mengeluarkan tembakan pun, pemain harus mengucapkan kata atau kalimat yang tersedia sebagai fungsi tembakan tepat sasaran ke lawan," papar mahasiswa asal Malang ini.  

Terdapat tujuh level dalam game ini, di mana masing-masing level memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dalam melafalkan kata atau kalimat bahasa Inggris dengan cepat dan tepat.

Ia berharap game tersebut bisa lebih bermanfaat kepada masyarakat umum guna melatih dan meningkatkan kecakapan berbahasa internasional, yaitu bahasa Inggris, khususnya anak-anak yang memiliki hobi bermain game.

Ilham mengaku senang karena dalam menciptakan sebuah game yang berkualitas, dibutuhkan seorang ahli ilmu program (programmer) dan ilmu estetika gambar agar game terasa lebih hidup.

Game Words War ini pernah dipamerkan di acara besar ITS seperti ITS Expo dan Menyentuh Kampus Teknologi (MKT). Meski sudah pernah dipamerkan, ketiga mahasiswa tersebut masih belum puas dengan komposisi game tersebut. "Game akan diimprovisasi lagi dengan tampilan yang lebih baik dan penambahan fitur yang lebih banyak," pungkas Ilham. (lut)